Showing posts with label Food. Show all posts
Showing posts with label Food. Show all posts

January 25, 2015

Sunday Lunch at Shirokuma Cafe Gandaria City

Setiap selesai gereja hari Minggu di Gandaria City,  seringnya dalam keadaan kelaparan dan kedinginan - pertanyaan yang selalu terlontar adalah "Mau makan siang di mana?" Biasanya, sih, ujung-ujungnya kami berakhir di Sushi-tei yang murah meriah dan mengenyangkan. Tapi hari ini, karena penasaran sama satu cafe yang belum lama buka cabang di Gancit, tanpa pikir panjang, kami meluncur ke lantai UG tempat cafe itu berada. 


Shirokuma Cafe



January 22, 2015

Menunggu Hujan Reda di Djournal Coffee Bar

Sebenarnya minggu ini saya bertekad nggak akan pergi ke mana-mana. Saya mau mengurung diri di kamar untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk (you know, the risk of being a procrastinator). Tapi, karena harus pergi ke ATM dan belanja beberapa benda di supermarket, pagi ini terpaksa saya menyeret kaki ke Citos di tengah hujan gerimis. 

Setelah menyelesaikan semua urusan dan siap pulang, tahu-tahu rintik gerimis sudah berubah jadi guyuran deras. I weighed my options. Kalau nekad pulang hanya dengan diteduhi payung lipat imut saya, sudah bisa dipastikan saya bakal basah kuyup. Belum lagi saya harus melewati jalanan yang pasti penuh kubangan di mana-mana. Doable, tapi sepertinya bukan pilihan bijaksana. Pulang naik taksi? Dengan jarak Citos ke rumah yang cuma beberapa ratus meter, kemungkinan supir taksinya bakal membanting pintu mentah-mentah di depan muka saya. 

Akhirnya, saya memutuskan mencari tempat untuk duduk menunggu hujan reda.  

Biasanya kalau lagi mau duduk-duduk iseng sendirian di Citos, toko roti Tous Les Jours akan jadi pilihan pertama saya. But since today I wasn't in a bakery kind of mood, I went to Djournal Coffee Bar instead.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya pergi ke kedai kopi besutan Ismaya Group ini, tapi baru 2 jenis kopi-nya yang sudah saya coba : caramel macchiato (kopi standar pilihan saya di kedai kopi manapun yang menyediakan) dan salted caramel latte. Dua-duanya enak dan nggak neko-neko, makanya saya selalu kembali ke kedua minuman itu lagi tanpa pernah berani berpetualang dengan minuman mereka yang lain. Dan kali ini pun saya kembali memilih caramel macchiato tanpa pikir panjang. Tapi kalau biasanya saya pilih yang iced, kali ini, menyesuaikan dengan cuaca, pilih yang hot. Lalu, untuk pelengkap kopi (karena buat saya kopi tanpa camilan itu bagai sayur tanpa garam), saya pesan sepotong Lola Bar, one of their recommended cakes from Colette & Lola. 

Hot Caramel Macchiato (43 K) & Lola Bar (35 K)
Karena bayar pakai kartu kredit Niaga, saya dapat diskon 15 % untuk cake-nya. Harusnya, untuk minuman saya juga dapat free upsize, tapi sayang sepertinya mereka cuma punya satu ukuran cangkir untuk yang hot. I felt cheated somehow... :(
The Lola Bar was good, by the way.  Tadinya saya pikir cake ini bakal manis banget, tapi ternyata manis caramel butterscotch-nya bisa diimbangi dengan pas sama pahit cokelatnya. Yummy!

carame
Untungnya saya bawa laptop dan materi terjemahan, jadi sambil menunggu saya bisa kerja. Untungnya lagi, Djournal Coffee menyediakan wifi gratis yang koneksinya lumayan cepat. Bikin tambah betah nongkrong di sini lama-lama
Yang saya suka dari Djournal Coffee ini - seperti semua restoran milik ismaya group - adalah dekorasi dan interiornya yang menarik. Juga banyak mural (?) dengan catchy phrases di dindingnya. Lucu buat foto-foto.





Satu lagi yang jadi nilai plus dari tempat ini adalah ada smoking area yang completely separated dari non smoking area, jadi nggak perlu khawatir terganggu asap rokok nyasar.

"The other side"
Area merokok yang terpisah di balik dinding kaca
Kira-kira 1 jam saya duduk di sini, ( berusaha ) menyelesaikan kerjaan sambil sesekali menyeruput kopi yang sudah lama mendingin (satu keluhan saya adalah kopinya dari awal kurang panas, jadi baru sebentar sudah dingin). Waktu menoleh keluar, ternyata hujan sudah mulai reda. Saya pun memutuskan untuk segera pulang sebelum hujan lebat mengguyur lagi.

Keputusan tepat, karena tak lama setelah saya menginjakkan kaki di rumah, it started to pour again.

Saatnya melanjutkan tidur  pekerjaan yang tertunda.

January 15, 2015

Mid-week Brunch at Monolog Coffee

Hari Senin, out of the blue, saya merasa ingin ketemuan sama teman-teman. So, I sent a message on our line group dan -seperti biasa- yang merespon cuma 2 regular hangout buddies saya; L & N. Maka, janjianlah kami untuk brunch hari Rabu di PIM. Kenapa harus brunch? Maybe because the word "brunch" sounds cool. But mostly just because we can. Yup, salah satu keuntungan dari tidak bekerja kantoran 9 to 5 adalah bebas mau sneak out ke mana pun dan kapan pun saya mau - selama keadaan dompet mengizinkan. Jadi sementara kebanyakan orang cuma bisa brunch di akhir pekan, we had the luxury of enjoying a mid-week brunch, di saat mall dan kafe-kafe sedang sepi & tenang, as opposed to the weekends.

Hari Rabu, untuk mengantisipasi kemacetan, saya sudah berangkat dari rumah jam 10 pagi. Eh nggak tahunya, jalanan kosong, dan saya sudah sampai di PIM jam setengah 11 kurang. Yeah, Jakarta's unpredictable traffic...  you're either late or early, it's almost impossible to arrive just on time. Karena baru janjian jam 11, terpaksa saya keliling PIM sendirian untuk membunuh waktu.

Setelah keluar masuk toko tanpa tujuan, saya mengecek jam tangan. Jam 11 kurang 10. Time to check up on my brunch companions, they should be arriving soon. So I lined them. Nggak lama, ada jawaban dari N; sudah dekat PIM, sebentar lagi sampai. Good. Berarti tinggal si L. 5 menit nggak ada jawaban. 6 menit, 7 menit. Jam 11 kurang 1 menit, masuk Line dari L.

"Eh hari ini jadi ya? Gue baru mau mandi"

WHAAATT!?

Well I guess I shouldn't have been surprised. Ini L. Kami sudah berteman dari SMP (which is a long long time ago) dan dia tipe anak yang baru sampai sekolah 5 menit sebelum bel masuk lalu celingak celinguk heran lihat anak sekelas nyalin PR atau baca buku catatan dan bertanya dengan polosnya "Emang ada PR ya? " atau "Ada ulangan apa?"

Ya, jadi memang harusnya saya sudah maklum sama kelakuan teman saya yang satu ini. Justru mungkin saya sendiri yang salah karena datang terlalu pagi...  padahal sudah tahu janjian sama siapa :P

Nggak lama kemudian N pun sampai. Sadar nggak ada gunanya kesal sama kawan tercinta kami, we shrugged it off, saying "Namanya juga L" dan memutuskan untuk lanjut dengan rencana brunch kami. Kalau nunggu L datang baru makan, namanya bukan brunch lagi, tapi lunch. And it just doesn't sound as cool.  Jadi kami melangkah ke Street Gallery AKA PIM 3 untuk mencari tempat makan yang OK. Dan pilihan kami pun jatuh pada Monolog Coffee.

Ketika kami tiba, cafe itu nggak begitu ramai. Nyaris kosong, malah. Pas untuk duduk-duduk makan pagi menjelang siang sambil mengobrol santai. 


Kami memilih tempat duduk di pinggir jendela. I love their huge windows! They let in plenty of sunshine; ideal buat pengunjung yang hobi foto-foto. Dengan terangnya sinar matahari, bahkan orang dengan kamera handphone tua seperti saya pun bisa menghasilkan foto yang cukup instagram (or at least blog) - worthy.



Setelah melihat menu beberapa saat, kami memilih menu dari all day breakfast section. I had the eggs bennedict while N chose the omelette set.

Monolog's Eggs Benedict (IDR 80K nett) & Regular Iced Tea (IDR 28 K)
Tadinya saya sempat ragu melihat warna saus hollandaise-nya yang terlalu pekat dan lebih mendekati oranye daripada kuning seperti normalnya saus hollandaise yang saya tahu. Tapi setelah dicoba, ternyata rasanya enak juga. Porsinya pun cukup bikin kenyang. My only complaint is the vinaigrette dressing on the salad, way too much vinegar!!! Rasa & aromanya jadi terlalu asam dan menjijikkan, almost inedible for me.

Omelette set ( IDR 82K nett) pesanan N di belakang. 
Saya lupa tanya gimana rasanya, tapi melihat bagaimana dia menyantap semuanya sampai habis tanpa keluhan apa-apa, I assume it was good, or decent at least.

Sambil menikmati makanan, kami mengobrol ngalor ngidul; tentang hal-hal kecil di keseharian kami, tentang topik-topik berita nasional yang lagi hangat, tentang Jupe dan kanker serviksnya... you know,  the usual small talks... Tanpa terasa, makanan di piring sudah hampir habis tersantap, jam pun sudah hampir menunjukkan pukul 12 siang. Still no sign of L. Sampai akhirnya, tepat ketika saya akan menyuapkan potongan english muffin dan ham terakhir ke mulut saya, muncullah dia! 

Halleluyah! She made it! right in time for... lunch

xD

Tapi ujung-ujungnya, L nggak pesan makan, sih. Dia cuma pesan minuman bernama "Green Detox" (IDR 48K nett). Yang datang kemudian adalah segelas jus berwarna hijau pekat yang agak tidak membangkitkan selera. Tapi L bilang enak. She let me took a sip, and it was actually quite good. Rasanya segar, kinda lemony, dan - ditilik dari warna dan namanya - I assume it was healthy too. 

Setelah L menghabiskan minumannya, kami sepakat untuk menyudahi acara almost-lunch-kind-of-brunch kami untuk lanjut ke agenda selanjutnya : jalan-jalan-di-mall-sambil-lirik-kiri-kanan-siapa tahu-ada-benda-bertanda-diskon-yang-menarik-untuk-dibeli. 

Waktu waitress membawa bill ke meja kami, saya menyadari satu hal yang menarik: di Monolog, semua harga yang tertulis di menunya adalah harga NETT tanpa embel-embel tambahan PPN 10% atau service charge lagi. God, how I wish semua restoran di Indo seperti itu! Apa mereka nggak tahu gimana repotnya kalau  makan rame-rame lalu pas tagihan datang harus menghitung harga makanan masing-masing plus hitungan pajak & service charge yang ditulis di ujung bawah bill!? 

Kalau bisa dibuat praktis seperti di Monolog ini kenapa harus dibuat ribet sih? 


August 17, 2013

Lunch For One at Boka Buka Kitchen and Bar

It was another Saturday morning when my friends decided to cancel on me abruptly while I was all set to go. I was so used to it already that I wasn't even bummed anymore. I just grabbed my bag and went out anyway, determined to enjoy a nice Saturday afternoon alone. 

Now, what would a nice Saturday afternoon out be without a nice lunch? So I decided to have lunch at this restaurant I'd been wanting to try out for quite sometimes : Boka Buka Kitchen and Bar at  Street Gallery PIM.

The place has vintage-country-style interior that gives this cozy and homey feeling. I loved it.






And as for my orders, here they are:


Boka Buka Salad - IDR 55,000, -
( Fresh lettuce, spring onion, half cut grapes, smoked beef, potato, sliced apples poured with honey and vinegar dressing)

My body was in dire need for something green & healthy, so for once I repressed my carnivorous desire to have meats and went for the veggies instead (granted there were slices of smoked beef in it, but still it was mainly veggies). The salad was nice and fresh, but nothing special. Also, I noticed that while according to the description in the menu, it was supposed to have "half cut grapes", the one that was served to me actually had "half cut cherry tomatoes" in it instead. But okay, I can live with cherry tomatoes. The salad also came with complimentary bread and butter which was enough to fill my tummy.



Crepes Comedie - IDR 55,000,-
( Flambe crepe with orange sauce and cointreau (orange liqueur) served with vanilla ice cream )

Because I'd been a good girl and ate all my veggies, I thought I deserved to be rewarded with a nice dessert. And this crepes turned out to be an excellent reward. Loved the combination of the orange - chocolate flavors. I gulped it down in no time!

For the drink, not wanting to spend too much, I chose Iced Peach Tea (IDR 20,000,-)


After finishing all my food (and paid the bill, of course), I left the place quite satisfied. Overall it was a nice lunch for one on a nice Saturday afternoon. 

August 11, 2013

Mika Japanese Bistro

Masih dalam rangka libur lebaran dan memanfaatkan lengangnya jalanan Jakarta, saya memberanikan diri untuk melangkah keluar dari "cul de sac" saya di area selatan Jakarta dan main ke Mal Kota Kasablanka.

Karena waktu sampai pas waktu makan siang, kita keliling dulu di area "Food Society" buat cari tempat makan yang oke, dan menemukan resto yang menarik ini di pojok lantai dasar:

MIKA JAPANESE BISTRO

Kepincut sama interior restorannya yang bernuansa klasik mediterania dan tampak cozy, kami memutuskan untuk mengisi perut di sini.

Interior:





And then, on to the orders:

Demiglace Omurice - IDR 65,000, ++
Ini menu speciality mereka di Mika. Omurice, alias nasi goreng saus tomat dan omelette dengan saus demiglace yang --dengar-dengar-- dimasak selama 7 jam! Entah sudah berapa tahun saya nggak makan omurice, dan Demiglace Omurice Mika ini lumayan mengobati kekangenan saya. Telur dadarnya lembuut dan rasa asam saus tomat di nasinya pun pas. SUKA!

Japanese Beef Curry Rice - IDR 55,000,++
Enak. Cuma sayang kentangnya masih sedikit keras.


Beef Lasagna - IDR 45,000,++

Nggak begitu suka, rasanya aneh. Tapi nggak tahu juga sih, mungkin lasagna asli memang rasanya seperti ini dan lidah saya aja yang kampungan... sudah biasa sama rasa lasagna-nya Pizza Hut sih :P

Untuk minumannya kami cuma pesan Ice Lemon Tea (IDR 20,000, ++). Nggak perlu dibahas lah ya... tahu sendiri 'kan rasa teh aroma lemon.


Selain makanannya lumayan enak dan suasananya cozy, service di tempat ini juga oke. Staff-nya ramah, sigap dan cepat melayani tamu. Waktu kemarin saya nggak sengaja menjatuhkan sendok, belum juga sempat angkat tangan untuk minta yang baru, pelayannya sudah datang membawakan sendok baru. 

Secara keseluruhan, saya suka tempat ini. Pinginnya sih kembali ke sini lagi dalam waktu dekat untuk nyobain dessert-nya yang juga tampak menggoda. Tapi setelah libur Lebaran selesai dan jutaan mobil kembali membanjiri jalanan, kayaknya saya bakal terkurung di dalam "cul de sac" lagi untuk sementara waktu 

August 1, 2013

Komugi Bakery - Melawai

Sudah beberapa kali lewat di depan bakery Jepang ini kalau lagi mampir di Papaya Fresh Gallery Melawai tapi belum pernah sempat nyobain. Akhirnya kemarin, habis beli cetakan telur mata sapi di Daiso lantai 2 and picked up some sushi for lunch at Papaya, I decided to -finally- give it a try.
Walau aneka roti di counter kecil yang terletak di pojok depan kasir Papaya ini juga cukup menggoda, being the sweet toothed person that I am, my eyes went directly to the dessert rack  :)

Dan inilah yang saya beli kemarin:



Strawberry Shortcake (IDR 20.000) & Strawberry Rare Cheese Cake (IDR 21.000)

Ukuran dessert di bakery ini memang tergolong imut, tapi mengingat harganya yang rata-rata dipatok di angka 20rb-an, saya rasa itu sangat masuk akal (Daripada ukurannya besar tapi harga bikin kantung bolong, sih saya lebih suka seperti ini). Rasanya pun saya suka sekali! Tekstur strawberry shortcake nya lembut dan "fluffy", dan manisnya nggak berlebihan. Rare cheese cake nya juga maknyus, dengan perpaduan rasa keju dan asam stroberi yang pas. Secara pribadi, satu hal yang paling saya suka dari cake & pastry Jepang pada umumnya adalah -selain teksturnya yang lembut - rasa manisnya cenderung "on the lite side" sehingga nggak bikin eneg. 

So will I go back there?
With still so many variants of cute & mouth watering desserts left to try, definitely yes! I've even made a mental note on what to nibble on next : their cream puffs and pudding :) 

Good thing Blok M is just an angkot ride away :D


K.O.M.U.G.I Bakery
Jl. Melawai Raya No. 28 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
( Di dalam supermarket Papaya Fresh Gallery)

July 9, 2013

Ladurée Singapore

Jadi, saya memutuskan nggak menulis lengkap sisa perjalanan saya di Singapura. Kenapa? Pertama -obviously - karena saya malas. Kedua, karena setelah tancap gas di hari pertama, hari selanjutnya kita jadi bingung mau ngapain lagi dan berakhir hanya berputar-putar tidak jelas (^^;)... Kalau ada yang layak diceritakan, ya, mungkin tentang kunjungan kami ke Ladurée yang baru membuka cabangnya di Singapura beberapa bulan lalu.

When I first heard my friend mentioned about this place, I was like, "Ladu what?". Ya, mungkin saya kampungan atau apa, tapi saya sama sekali nggak tahu tempat yang namanya "Ladurée" ini, hell I don't even know how to pronounce it -_-; Baru setelah mengubek-ubek informasi di Google, saya ngeh kalau Ladurée ini adalah produsen cake dan pastries mewah dari Perancis yang terkenal sebagai pencipta macaron 2 tumpuk.

Oke. Perancis, Macaron, terkenal... sounds good so far, sampai saya mengetahui satu fakta yang mengguncang; harganya SGD 3.8 per butir. TIGA PULUH RIBU RUPIAH untuk satu gumpalan telur dan gula!?? French or not, there's no way I'm going to spend that kind of money on such a small lump of egg and sugar!

....

Or so I thought, sampai akhirnya saya tiba sendiri di toko Ladurée yang terletak di L2 departemen store Takashimaya, Singapura. 





Dekorasi toko yang begitu manis dan warna-warni macaron yang menggoda membuat iman saya goyah. Karena saya pikir, toh saya sudah ada di sana dan entah kapan bisa kembali lagi, saya memutuskan untuk merogoh kantung sedikit dalam dan patungan sama L membeli 1 kotak macaron.


Box of 8 edisi spesial Singapore ini harganya $38. Banyaknya varian rasa yang ditawarkan membuat kita bingung memilih, jadi kita pasrahkan saja sama mas penjaga toko untuk memilihkan "the recommended ones". Saya sama sekali nggak tahu apa yang dimasukkan si mas ke dalam kotak kami dan cuma   mengangguk-angguk tiap kali si Mas memasukkan macaron dan meminta persetujuan kami.
Setelah searching di internet, baru belakangan saya bisa mengidentifikasi sebagian nama macaron yang kami beli, yaitu: Marie Antoinette, Caramel with Salted Butter, Raspberry, Yuzu Ginger, Rose Petal,  dan Pistachio. Dua lagi... I have no idea >.<
Oh iya sebenarnya bisa saja kita beli satuan dengan harga $3.8 / piece yang dibungkus dengan bungkus kertas biasa... tapi karena kayaknya kurang oke kalau macaron secantik ini difoto cuma sama bungkus kertas, just for this once we agreed to pay extra for the lovely box.

Macaron-nya sendiri rasanya sesuai dengan harganya. Kulitnya lembut dan isinya lumer di mulut. Manisnya pun pas. My personal favorite was the caramel one. Biasanya saya nggak begitu suka caramel karena rasa manisnya yang cenderung terlalu kuat, tapi macaron caramel  with salted butter dari laduree ini rasa manis dan asin nya paaas banget, bikin pengen lagi  :9

Jadi kesimpulannya, apakah saya mau beli macaron Ladurée lagi? Mungkin. Kalau kebetulan saya sedang ada di Singapura, lewat di depan Takashimaya, dan kelebihan dolar di dompet ^^;

October 29, 2012

Arang 22 (아랑22)

Intermezo sedikit dari cerita liburan kemarin (yang saya sendiri nggak yakin akan habis saya tulis di sini >.<), hari Sabtu kemarin AKHIRNYA saya berkesempatan mencoba makan di restoran Korea Arang 22 yang terletak di bilangan Senopati. Hari itu saya pergi dengan 3 sahabat saya, Miss Saru (the doctor, yang sudah merekomendasi dan ngajakin saya pergi ke sana dari tahun lalu), Miss Pingu (the Singaporean yang kebetulan lagi pulang kampung ke Jakarta dalam rangka ngurus visa), dan Miss Kucing (the anak gaul Jakarta yang selalu sibuk ;p).





Sebenarnya menu yang kami pesan cuma 3 jenis: Wang Galbi, Yuk Gae Jang, dan Topokki, tapi yang mendominasi meja justru side dish-nya yang berlimpah. Saking banyaknya, teman saya half jokingly said, "Kalo ga punya duit, kita ke sini pesen satu menu yang paling murah sama nasi aja trus minta refill side dish-nya sampe kenyang" xD)


Verdict untuk tempat ini: MEMUASKAN! Atmosfer tempatnya yang Korea banget cocok buat orang yang ingin merasakan authentic Korean feeling, rasa makanannya OKE, porsi memuaskan, dan harga reasonable. Setelah makan sampai perut hampir meledak kemarin, total tagihan yang harus kami bayar berempat sekitar IDR 400,000 (saja). Definitely worth the money!


June 8, 2012

Convivium Cafe Deli

Satu ritual yang tidak boleh terlewatkan setiap kali saya habis menerima honor adalah memberi sesajen  nraktir mama saya makan di luar. Kali ini, restoran yang jadi tujuan kami adalah sebuah restoran Italia di bilangan Panglima Polim, Jaksel yang bernama Convivium. Saya memang sudah cukup lama penasaran makan di sana akibat mendengar review banyak orang yang mengatakan kalau red velvet cake di sini rasanya maknyus dan top markotop.

Karena kebetulan hari ini adik saya yang kecil juga baru selesai ulangan umum, sebagai penghargaan untuk "kerja kerasnya" selama satu minggu ini, sekalian saja si unyil satu itu saya ajak juga. Eh waktu mau berangkat, tahu-tahu eyang putri SMS bilang mau ikutan... ya sudah, jadinya meluncurlah kami berempat ke Convivium.

Sampai di sana sekitar pukul 11 siang, tempat parkirnya yang memang sempit sudah dipenuhi mobil. Deg-degan juga... gimana nih kalau ternyata red velvet yang jadi incaran saya sudah habis dipesan. Makanya begitu masuk, yang saya tanyakan lebih dulu pada si mbak waitress adalah, "Red velvetnya masih ada?" Dan untungnya, dia menjawab dengan anggukan.  (^_^)

After we got seated, saya menyempatkan diri untuk celingak celinguk melihat suasana resto tersebut.  The place is quite cozy and has a nice homey feeling to it. Sepertinya lumayan asyik juga buat nongkrong-nongkrong sama teman :)




Karena dari awal sudah punya incaran yang spesifik, tanpa berlama-lama melihat menu, we went straight to ordering:

Complimentary Bread Stick

Torta Pasione alias Red Velvet Cake (IDR 38K++)
Cake yang menjadi alasan utama saya datang ke Convivium ini, ternyata nggak menjawab ekspektasi tinggi yang sudah melekat kuat dalam benak saya akibat review yang luar biasa dari banyak orang. Bukannya nggak enak, lho. Rasanya sih OK, jauh dibandingkan red velvet cake-nya The Harvest yang saya coba sebelumnya. Hanya saja... Well... I guess I'm just not a red velvet person afteral. (adik saya sih bilang dia suka banget. Sepertinya ini memang masalah preferensi pribadi ya :D)


Rainbow Cake (IDR 28K++)
Ini juga salah satu highly sought after cake di Jakarta saat ini. Sayangnya, I have to say I didn't find anything special about the cake. Tastes OK and the texture's fine, tapi buat saya nggak lebih dari cake bolu berwarna warni dengan slight lemon flavor.


Tiramisu (IDR 30K++)
Nah, yang ini baru maknyus! Lembut dengan rasa coffee yang cukup kuat. Yum! (Indeed, I am a coffee lover ^^)

Straccetti Cream Mushroom (IDR 50K++)
Apparently my sister decided that she wanted to have pasta instead of cake, so we asked the waitress for a recommendation. And this is what she suggested us to order. Dan ternyata pilihannya si mbak nggak salah. My sister loved it, and so did I. Hehehe. Pada dasarnya saya memang penggemar pasta bersaus krim sih :D

Kesimpulannya, kalau ada kesempatan saya pingin mampir lagi ke tempat ini, mungkin untuk nongkrong-nongkrong cantik dengan teman-teman saya. One thing for sure, though, next time I'll stay away from their red velvet & rainbow cake.


*Catatan : Semua harga di atas belum termasuk 10 % tax dan 6 % service charge


May 20, 2012

Bola Bola Gurita Takoyaki

The other day, a random thought crossed my mind...
"I want Takoyaki!"

Iya, tiba-tiba saya pingin makan bola-bola gurita panggang khas Osaka itu. Ah coba kami punya alat cetakannya, bikin sendiri di rumah juga gampang...

Waktu saya bilang begitu ke si mamah,

"Lho? Cetakannya sih aku udah beli dari kapan. Itu ada di belakang!"

Dan benar saja, saya menemukan cetakan takoyaki masih terbungkus rapat dalam kardusnya yang sudah mulai berselimut debu. Masih perawan ting ting dan dianggurin aja sejak hari pembeliannya... -_-; Kebiasaan si mamah... 

Anyway, karena cetakan sudah ada, selanjutnya tinggal melengkapi bahan-bahannya. Beruntung saya bisa menemukan semua bahan dalam daftar saya tanpa susah payah di supermarket Jepang Papaya Fresh Gallery, Melawai. 

Setelah cetakannya siap dan bahan lengkap, saatnya mulai membuat Takoyaki!! Untuk resepnya, saya mencontek resep takoyaki si chef kocak asal Jepang Chef Harada dari acara Fun Cooking, sbb:

Bahan:
Tepung terigu 100 gr
Susu cair       100 ml
Air                200 ml
Gula              1/4 sdt
Garam           1/4 sdt
Telur             1 butir
Daging gurita secukupnya, potong kecil-kecil (kemarin saya beli 100 gram bisa untuk 4 kali buat)
Keju secukupnya, potong kecil-kecil
[Resep asli Chef Harada memakai potongan sosis, but I skipped this one :D]
Daun bawang, potong halus

Pelengkap:
Saus okonomiyaki / tonkatsu (I used Otafuku Tonkatsu Sauce  because it was the cheapest one I could find at Papaya :p)
Mayonaisse
Cakalang serut / Katsuobushi (Ada 2 merek Katsuobushi yang saya temukan di Papaya. One was imported directly from Japan and costs more than Rp 100.000, which was just too expensive for me. So I opted for the local one "Hana Katsuobushi" which was around Rp 30.000 for a 50 gr pack)

Cara buat:
1.  Olesi cetakan okonomiyaki dengan minyak
2. Campur dan aduk terigu, susu, gula, garam, dan air hingga rata, lalu masukkan telur dan aduk kembali
3. Tuangkan adonan ke dalam cetakan yang sudah dipanaskan di atas kompor, lalu masukkan  potongan gurita, keju, dan daun bawang
[...Please ignore the mess...]

4. Bolak balik bola-bola takoyaki hingga matang merata


5. Angkat, tuangi dengan saus dan mayonaisse, lalu taburi katsuobushi di atasnya!

Dekiagari~ Jadi deh!




Nom nom nom!
Hehe, rasanya memang nggak bisa dibandingkan dengan takoyaki asli Osaka. Tapi lumayan lah untuk nyemil-nyemil unyu di sore hari sekaligus mengobati kekangenan saya pada kota kuidaore itu :)