Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

October 19, 2014

Pulau Dewata - Part 1: Menginjak Nusa Lembongan

Sebenarnya, setelah perjalanan ke Jepang akhir Juni - awal Juli lalu, saya bertekad untuk tidak pergi ke mana-mana lagi sisa tahun ini. Ya, sehemat-hematnya mengatur budget, perjalanan ke negeri sakura selama 9 hari itu memang cukup menguras tabungan. Jadi demi kesehatan finansial dan tekad menabung untuk ultimate goal saya; Euro trip, saya berencana untuk anteng saja di Jakarta sampai tahun depan.

Namun, rencana tinggal rencana…

Ketika teman saya Echa mendadak mengajak liburan ke Bali, mulut saya dengan cepat mengatakan “Ayo!” sebelum otak sempat mengirimkan sinyal berhenti. I just couldn’t help myself. Godaan untuk keluar dari sesaknya keseharian di kota Jakarta terlalu kuat untuk dilawan.

Nah, kebetulan, sebelum ada ajakan dari Echa, saya dan teman-teman di sini sudah sempat membicarakan soal liburan bareng ke pulau di sebelah tenggara Bali, Nusa Lembongan. Saya pikir, daripada berangkat 2 kali ke Bali, lebih baik 2 trip itu digabung saja sekalian. Jadi, saya usul ke Echa untuk memasukkan 1 malam di Nusa Lembongan ke dalam itinerary kami. Setelah Echa setuju, saya coba menyinggung rencana perjalanan ini ke teman-teman di sini. Dan gayung bersambut, Lidya dan Negis tertarik. Jadi, diputuskanlah untuk pergi berempat ke Pulau Dewata!

Perjalanan kami pada 13 Oktober lalu berawal dengan penerbangan Airasia pukul 08:45 pagi yang - tumben-tumbenan- berangkat 100% tepat waktu dari Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan selama 1 jam 40 menit berjalan mulus, nyaris tanpa kejadian istimewa, kecuali ketika tiba-tiba, out of nowhere, muncul dua orang pria (sepertinya crew airasia yang sedang off duty) yang mulai menyanyi dengan iringan gitar di bagian depan kabin layaknya pengamen di bus kota. Oke, mungkin ini maksudnya sejenis in flight entertainment. Niatnya patut dihargai, tapi lain kali mungkin mereka bisa menampilkan someone who can actually sing... just a suggestion :D

Anyway, akhirnya kami tiba di bandara Ngurah Rai, Bali! 
Sempat pangling saya waktu menjejakkan kaki ke area kedatangannya. Yang masih melekat di ingatan saya adalah bandara tua nan usang seperti yang terakhir kali saya lihat tahun 2009. Tapi ternyata setelah proses renovasi dan reopening awal tahun ini, Bandara Ngurah Rai sekarang jadi jauh lebih keren, layak disebut bandara internasional. Good job Angkasa Pura! Jadi iri. Kapan ya giliran Jakarta…

Oke, dari Ngurah Rai, kami meluncur ke tempat penyeberangan di Sanur. Perjalanan melalui tol Mandara tidak memakan waktu lama, kurang lebih 30 menit kami sudah tiba di pantai Sanur yang dipenuhi kantor-kantor penyedia jasa penyeberangan ke Nusa Lembongan. Berdasarkan hasil online research sebelumnya, kami langsung mengarah ke kantor Sugriwa Express. Di sana kami dapat harga Rp 75 ribu sekali jalan untuk fastboat ke Nusa Lembongan. Itu harga "lokal indonesia". Kalau "lokal bali", harganya lebih murah : Rp 50 ribu. Sedangkan turis bule harganya berlipat-lipat, kalau tidak salah sekitar 550 rb pp (!) Yep, that's Bali!
Fastboat Sugriwa Express

Sesuai Jadwal, fastboat kami meninggalkan Sanur pukul 13:30. Oh iya sebelum naik kapal, semua penumpang diminta melepas alas kaki untuk dikumpulkan dalam satu keranjang. Mungkin supaya kebersihan di dalam kabin tetap terjaga. Selain itu, semua koper / tas besar juga dikumpulkan dan diangkut staff sampai ke dalam kapal. Jadi tidak perlu takut ribet kalau bawa koper yang agak besar sekalipun.


Foto di atas diambil waktu kita baru mulai duduk di dalam boat. Semua masih ceria, semangat foto-foto... sampai boat mulai bergerak meninggalkan bibir pantai dan diombang-ambingkan ombak tinggi. Jangankan foto-foto, sekedar menikmati pemandangan laut biru di luar pun rasanya sudah nggak sanggup. Apalagi, dengan polosnya kami memilih tempat duduk di deretan depan. Aduh, perut seperti dikocok-kocok. Rasanya semacam naik wahana jet coaster mini di taman hiburan, tapi dengan durasi 30 menit. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya melirik jam, berharap setengah jam cepat berlalu, sambil terus mencengkeram erat life vest yang dimasukkan di saku kursi depan... you know, just in case... (>.<)

Puji Tuhan, sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di Pantai Jungut Batu, Nusa Lembongan dengan selamat. Dan ajaibnya, tidak ada yang mabuk laut sepanjang perjalanan, not even me! :D
Dari pantai, kami diarahkan ke kantor Sugriwa Express di dekat sana untuk menunggu mobil yang akan membawa kami dan penumpang lain ke penginapan masing-masing. Tak lama menunggu, diantarlah kami ke penginapan kami untuk malam itu : Lembongan Reef Bungalow.

Lembongan Reef Bungalow ini kamarnya berupa vila-vila di atas bukit, semakin besar nomor vilanya, semakin jauh kita harus mendaki anak tangga. Kebetulan kami memesan family room kapasitas 4 orang dan mendapat villa nomor 7, jadi kami harus memanjat naik lumayan tinggi. Tapi melihat pemandangan dari balkon kamar kami, semua kepenatan terbayar tuntas. 

Surga membentang di depan mata!
Vila-vila di Lembongan Reef Bungalow
Habis menaruh barang dan menghela napas sebentar, kami tak membuang-buang waktu untuk mulai menjelajah pulau. Di resepsionis, kami bertanya moda transportasi apa yang bisa kami pakai. Mas di sana menyarankan menyewa sepeda motor karena menyewa mobil terlalu mahal (800 ribu / hari!!). Nah susahnya kalau pakai motor, di antara kami berempat cuma Echa yang bisa bawa motor. Akhirnya setelah bingung-bingung kami memutuskan untuk menyewa satu motor dan 2 ojek. Mas resepsionis pun mengatur penyewaan motor dan ojek itu. Masalah kemudian adalah harga. Untuk motor kami mendapat harga 100 ribu untuk 24 jam beserta bensinnya (yang kemudian baru kami tahu kalau seharusnya masih bisa ditawar lagi, terutama kalau kita menyewa dari luar hotel). Tapi untuk ojeknya, mereka meminta harga 150 ribu per motor hanya untuk ke 2 spot saja!! Setelah proses tawar menawar yang alot, mereka cuma mau turun sampai harga 100 ribu per motor... karena merasa tidak ada pilihan lain,  dan capek berdebat lebih jauh, akhirnya kami menyerah. (lagi-lagi baru kemudian kami sadar bahwa kita bisa mendapat harga jauh lebih murah dari orang-orang di pinggir jalan, bukan melalui hotel).

Spot pertama yang kami tuju adalah Warung Bumbu Maria, yang di tripadvisor disebut sebagai warung terbaik di Nusa Lembongan. Tapi sedihnya, sudah jauh-jauh (dan mahal-mahal menyewa ojek), waktu tiba di sana ternyata warungnya tutup. Ya sudah, dengan menelan kecewa, terpaksa kami lanjut ke spot berikutnya : Dream Beach. 

Perjalanan dari Warung Maria ke Dream Beach tidak terlampau jauh (biarpun mas ojeknya berkeras bayar 100 ribu itu murah karena lokasinya "dari ujung ke ujung", pada dasarnya Nusa Lembongan itu sendiri memang tidak terlalu besar, jadi "dari ujung ke ujung" nya mereka pun paling cuma beberapa kilometer. Malah saya menyaksikan sendiri ada bule yang bisa keliling pulau berjalan kaki! That's how small the island is, meski saya sendiri nggak akan pernah mempertimbangkan jalan kaki berkilo-kilo meter di bawah terik matahari yang begitu menusuk.).

Di perjalanan kami sempat melewati Panorama Point dengan pemandangannya yang indah.
Panorama Point, d iambil dari atas ojek yang melaju kencang


This is how we roll in the island!
Notice we didn't wear helmets! Bukan karena nggak mau, tapi memang nggak disediakan :(
DO NOT TRY THIS AT HOME!
Tak lama, kami tiba di Dream Beach. Meski ini sebenarnya pantai umum, akses masuk ke pantai tersebut cuma ada 1, yaitu melalui kafe di sana. Entah apakah seharusnya kami memesan minum di sana sekedar untuk "biaya lewat" atau tidak, tapi kami memutuskan untuk bermuka tebal dan numpang lewat begitu saja, mengacuhkan tatapan staf kafe, langsung menuju pantai.



Kafe yang kami lalui untuk masuk ke area pantai
Area pantai dream beach memang tidak besar, tapi tempatnya sepi (mungkin juga karena kemarin sedang low season), pasirnya putih, dan airnya jernih mengundang. Menyenangkan untuk duduk berlama-lama memandangi ombak di bawah bayangan batu karang besar yang menghalangi sengatan matahari.





Puas bermain-main di pantai, kami  berjalan kaki ke destinasi selanjutnya tak jauh dari sana, Devil's Tear.




Ombak tinggi berderu-deru menghantam tebing karang. Dahsyat! Kalau lihat foto-foto di instagram, sepertinya kita bisa mendapat foto spektakuler dengan berdiri atau duduk di tepi tebing, berlatar deburan ombak. Tapi karena saya tidak bisa berenang dan parno melihat tingginya ombak, saya memilih  berdiri di jarak aman dan foto-foto dari jauh saja. Safety first, right?! O

Sambil istirahat di dekat Devil's Tear, kami sempat mendiskusikan soal transportasi hari berikutnya. Kalau hari ini untuk 2 spot saja kami harus bayar 100 rb / ojek, bagaimana besok kalau mau jalan-jalan seharian? Kemudian, entah bagaimana, Echa dapat ilham; kita suruh Lidya belajar naik motor supaya besok tinggal sewa motor! Jadilah Lidya langsung kursus kilat naik motor dari Echa di sana saat itu juga. Mungkin memang dasarnya bakat nyetir (?), tidak berapa lama, Lidya sudah bisa mengendarai motor meski masih sedikit oleng dan ragu-ragu... But that's good enough for us, daripada bayar ojek mahal-mahal.  Kita anggap Lidya sudah bisa naik motor, besok tinggal sewa motor dan saya dibonceng. Done deal! Apparently, in this case, money beats safety :D 

Selesai di Devil's Tear, kami telepon tukang ojek yang tadi untuk minta dijemput kembali ke daerah penginapan kami di Jungut Batu. Meski katanya sunset di Dream Beach cukup mengagumkan, kami memilih mengejar sunset sambil duduk-duduk cantik di The Deck, tak jauh dari Lembongan Reef Bungalow.




Pesanan kami; pizza margherita dan 2 cocktails yang sedang harga spesial Happy Hour, selain itu juga ada 2 jus pesanan Echa & Negis. Harga di tempat ini memang tergolong mahal, tapi layak untuk sekedar mencari pengganjal perut sambil duduk-duduk menikmati suasana dan pemandangan.
Cocktail : 100K. This breathtaking view: priceless!
Ketika pesanan kami habis tersantap, semburat merah sudah mewarnai langit. Matahari perlahan menghilang di balik garis laut. Perut pun mulai keroncongan. Memang, sepotong pizza margherita dan satu gelas cocktail tidak mungkin mengenyangkan. Jadi, setelah "makan pencitraan"  ini, kami beranjak pergi mencari makan yang mengenyangkan dengan harga yang lebih bersahabat. 

Maka, berjalanlah kami menyusuri pantai Jungut Batu. 


Senja di pantai Jungut Batu

Hingga tibalah kami di warung kecil bernama Warung Meal House 99 

Warung with a view

Sembari menikmati sisa-sisa senja, kami menyantap nasi campur dan babi sayur di warung tersebut sebagai makan malam. Rasanya -meski nggak istimewa- cukup memuaskan, harganya terjangkau (untuk ukuran warung di Lembongan di mana semua harga sepertinya disesuaikan dengan standar turis asing), plus dapat bonus pemandangan senja yang cantik. I really can't complain.

Selesai makan, langit sudah benar-benar gelap. Perut kenyang, badan pun sudah lengket oleh keringat dan udara laut yang bergaram, we decided to call it a day. Saatnya kembali ke hotel untuk beristirahat. 

*Review saya tentang hotel Lembongan Reef Bungalow yang sedikit mengecewakan karena masalah pendingin ruangan yang tidak bekerja bisa dilihat di tripadvisor 

September 11, 2013

Sawadeeka! Bangkok - Part 2

Hari ke-3 : Shop & Splurge

Hari ini kami akan pindah ke hotel Muangphol Mansion di daerah Siam. Bukan karena saya shock lihat bule telanjang berkeliaran... bukan... tapi memang dari awal kami cuma book 2 malam di Link Corner dan sudah pesan kamar di Muangphol Mansion untuk 3 malam sisanya supaya bisa lebih dekat dengan area downtown-nya Bangkok. 
Sekitar pukul 9 kami sudah check out dan menitipkan koper di resepsionis hostel supaya kami bisa mampir dulu ke satu mall yang letaknya nggak jauh dari sana: Platinum Fashion Mall.
Mencapai Platinum dari Link Corner nggak susah, apalagi dengan panduan google map di tangan :)  Begitu keluar hostel, ambil jalan yang ke kanan (ke arah stasiun Ratchaprarop) lalu terus saja jalan lurus sekitar 600 meter sampai ketemu perempatan besar dan belok kanan. Jalan lurus lagi sekitar 200 meter dan mall-nya akan kelihatan di sebelah kiri jalan.


Platinum Fashion Mall ini kalau di Jakarta sebenarnya lebih mirip ITC, cuma yang dijual khusus produk fashion berupa pakaian dan segala rupa aksesorisnya. Selain itu, tempatnya lebih terang, lorong-lorongnya lebih lapang, dan secara keseluruhan terkesan lebih rapih dari ITC di Jakarta. Dengar-dengar, di sinilah orang-orang Indonesia suka belanja kulakan untuk dijual lagi di butik-butik maupun online shop. Dan memang waktu di sana, saya beberapa kali berpapasan dengan orang Indo yang belanja sambil menggeret-geret koper besar :) Kalau kami berdua sih cuma belanja santai saja. Kalau lihat benda yang pas di hati dan di kantung ya dibeli.
Barang-barang di sini kebanyakan sudah harga pas, nggak bisa ditawar. Kecuali kalau kita beli minimal 3, maka kita akan mendapat wholesale price alias harga grosir. Kadang-kadang beda harga satuan dan grosirnya bisa lumayan jauh. Seperti sebuah kaus lucu yang saya beli, kalau beli satu, harganya 250 Baht, tapi kalau beli 3 harganya jadi 150 Baht/ piece. Lumayan, 'kan? Jadi atas nama hukum ekonomi dan prinsip nggak mau rugi, langsunglah kami bungkus 3 potong... 
Pokoknya shopaholics yang suka berburu barang-barang murah tapi oke pasti senang banget di sini. Harganya relatif murah, pilihan modelnya beragam, mall-nya pun nyaman. Kalau nggak ingat ini baru awal hari ke-3 dan saya masih perlu menyimpan uang untuk hari-hari berikutnya, bisa-bisa saya  juga menggila di sana. Satu-satunya kekurangan dari belanja di sini adalah rata-rata bajunya nggak boleh dicoba, jadi make sure you know your size before you come! 

Setelah puas menjelajahi semua lantai mall ini dan makan siang di food court-nya, kami kembali ke hostel untuk mengambil koper dan langsung cabut ke Muangpol Mansion dengan taksi.

Muangphol Mansion. Kata pertama yang terlintas di benak saya ketika melihat gedung hotel ini adalah, "TUA". Dan setelah masuk ke dalam, kesan tua dan usang itu semakin kuat. Lorong & lift-nya berbau lembab. Colokan listrik di kamar nggak bisa berfungsi kalau lampu nggak dinyalakan semua (??). Keran shower pun harus dinyalakan lamaa sekali (lebih dari 15 menit!) sampai air panasnya keluar, and that's if you're lucky. Tapi, namanya juga hotel murah, cuma 330 rb-an per malam di Agoda, what can you expect? Yang terpenting - dan menjadi pertimbangan utama saya saat memilih hotel ini - adalah: lokasinya mantap. Nggak sampai 5 menit jalan kaki ke stasiun National Stadium, 5 menit dari MBK, dan cuma 10 menit jalan kaki ke Stasiun Siam dan semua mall di sekitarnya. You can't ask for a better location.
Jadi, setelah menaruh koper di hotel, kami langsung menyeberang ke MBK Center.


MBK Center ini katanya juga salah satu mall favorit orang Indonesia, tapi terus terang, waktu di sana saya nggak begitu terkesan. Sejauh mata memandang, isinya ya begitu-begitu saja; baju, sepatu, tas, aneka rupa oleh-oleh khas Thailand, more bags, more shoes... and so on... Di sana saya cuma mampir beli tas untuk oleh-oleh di Naraya lalu nemenin Echa beli koper di Tokyu Department Store. Oh iya, sempat beli sepatu flats lucu juga di lantai dasar. Hehe. Memang namanya cewek, biar katanya nggak minat, tetap saja keluar bawa tentengan...

Waktu lihat-lihat di lantai 2, nggak sengaja kami melihat nail salon bernama Red Nails. Tempatnya penuh dengan bule-bule yang sedang dimeni-pedi. Tergoda untuk memanjakan diri sedikit, kami memutuskan untuk masuk dan mencoba paket manicure-pedicure mereka. And I ended up regretting my decision.. Mungkin karena tempatnya ramai, jadi mereka kerjanya seperti asal cepat selesai. Mbak-mbak yang mengerjakan kuku saya nggak rapi memoleskan kuteksnya. Saya nggak tahu apa saya saja yang sial dapat mbak-mbak yang kerjanya asal begitu atau memang semua stafnya seperti itu. Padahal harga paket meni-pedi mereka nggak murah; 700 Baht alias hampir Rp. 250 ribu. Mending meni pedi di salon di Jakarta, deh :(
My nalis after the-not-so-satisfying-mani-pedi-session that cost me 700 Baht. Nggak lama setelah itu, kuteksnya langsung bocel-bocel. Entah saya yang  ceroboh banget atau kualitas kuteksnya yang jelek. I remember seeing the label "OPI" on their nail polishes, though. So, yeah, it was most probably my own fault..

Habis meni-pedi, kami kembali ke hotel untuk menaruh barang-barang dan membetulkan make-up yang sudah luntur oleh keringat. Ya, kami harus dandan cantik karena malam ini kami mau ke salah satu sky bar yang paling happening di Bangkok: Sirocco! 

Tapi sebelum itu, ada satu tempat yang mau kami kunjungi lebih dulu, yaitu Asiatique the Riverfront.

September 2, 2013

Sawadeeka! Bangkok - Part 1

Ceritanya berawal dari pertengahan bulan April tahun ini ketika "tanpa sengaja" saya melihat promo tiket murah Mandala Tigerair ke Bangkok. Iseng-iseng coba memasukkan tanggal di website-nya, saya malah menemukan tiket PP super murah seharga 1 jt rupiah saja berikut bagasi! Karena takut tiketnya keburu habis terjual kalau pakai ngajak-ngajak teman dulu seperti yang sudah-sudah, langsung saja saya dengan impulsif melanjutkan proses pembayaran, dan tak lama kemudian, ticket comfirmed! 

Yak, saya akan nekad berpetualang sendirian ke luar negeri untuk pertama kalinya!
...

Tadinya sih, begitu pikir saya.

Tapi untungnya, Echa, teman saya yang tinggal di Jepang, menunjukkan minat untuk ikut ke Bangkok. Maka sepakatlah kami untuk bertemu dan berlibur bareng di Bangkok pada bulan Agustus! Tapi ada satu masalah, rupanya teman saya ini membeli tiket untuk keberangkatan tanggal 24 Agustus, yang berarti 2 hari lebih awal dari rencana saya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk ikut memajukan hari keberangkatan dan membeli tiket one way yang baru seharga 800 ribu-an berikut bagasi. Saya pikir  tambah mahal sedikit nggak apa-apalah, toh sudah bertahun-tahun saya nggak jalan-jalan bareng sama teman saya yang satu ini. Dan pastinya, saya merasa lebih tenang jalan berdua daripada muter-muter nggak jelas sendirian di negara asing yang bahasanya pun saya nggak paham.

Untuk budget perjalanan 6 hari 5 malam kali ini, saya menyiapkan THB 10.000 atau Rp 3.350.000 dengan kurs yang saya dapat saat itu, di luar biaya tiket pesawat dan akomodasi. Untuk mengetahui rute dan estimasi biaya transportasi (MRT, BTS dan ARL) selama di Bangkok, saya memakai app "Bangkok Transport". Sementara untuk referensi itinerary dan informasi-informasi lain seputar Bangkok, saya berpedoman pada tripadvisor dan blog para pelancong yang berserakan di internet, terutama blog Jejak Kaki yang informasinya super lengkap dan berguna untuk contekan :)

Dan setelah berbulan-bulan merencanakan dan menunggu dengan tak sabar, akhirnya hari yang dinantikan pun tiba!

Hari Pertama : Arrival


Hari Sabtu, 24 Agustus 2013, pesawat Mandala RI 902 tujuan Bangkok yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pukul 15:40 akhirnya baru take off sekitar 1 jam kemudian... ya sudahlah, no comment, sudah biasa... Di dalam pesawat, mau pesan makan, eh ternyata menu nasinya sudah habis semua waktu cabin crew-nya sampai di row saya. Terpaksa deh saya pesan pop mie saja untuk mengganjal perut sambil membuat catatan mental, "lain kali kalau naik budget airline jangan lupa pre-book makanan dulu."
Setelah duduk anteng di dalam pesawat selama sekitar 3 jam, entah bagaimana caranya, walau take off molor 1 jam, kami tiba di Bandara Suvarnabhumi tepat waktu sesuai jadwal pukul 19:45, teng! Bukan sulap bukan sihir... -_-;
Turun dari pesawat, urus imigrasi, ambil bagasi, keluar langsung mampir beli Happy Tourist SIM card dulu di booth DTAC seharga 299 bath untuk unlimited internet selama 7 hari. Lalu bertemulah saya dengan Echa yang sudah sampai duluan di Suvarnabhumi dan sabar menunggu sekian jam untuk pergi ke hostel sama-sama. 

Dari bandara, kami naik city line Airport Rail Link (ARL) ke stasiun Ratchaprarop yang paling dekat dengan Link Corner Hostel tempat kami akan menginap. Waktu keluar dari stasiun Ratchaprarop, dengan bodohnya kami sempat nyasar dan salah belok saat mencari hostel, padahal sebenarnya tempatnya sangat mudah ditemukan; begitu keluar stasiun, langsung saja jalan ke arah kiri lalu jalan lurus sekitar 50 m, hostelnya ada persis di pojokan jalan sebelah kiri. 

Sampai di hostel, kami taruh barang-barang sebentar (karena di hostel ini nggak ada lift, saya titip koper di luggage room sebelum naik ke kamar di lantai 3), lalu pergi cari makan malam di sekitar sana. Setelah makan, kami mampir ke 7-eleven untuk beli air dan roti untuk sarapan sebelum kembali ke kamar untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk petualangan kami yang akan dimulai di hari berikutnya!


Hari kedua: MARKET DAY

Jam 6 kurang, sebelum alarm hape berbunyi, mata saya sudah terbuka. Nggak mau membuang-buang waktu, saya memutuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap. Waktu membuka pintu untuk pergi ke kamar mandi yang terletak tepat di depan kamar kami, mata saya yang tadinya baru terbuka setengah langsung terbelalak lebar demi melihat cowok bule tinggi besar yang cuma pakai celana dalam berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi. Masuk ke kamar mandi, eh ada satu lagi mas-mas bule keluyuran cuma pake handuk... Barulah saya ngeh, rupanya di sini kamar mandi dan toiletnya campur cewek-cowok :O Agak culture shock, soalnya di hostel terakhir yang saya inapi di Singapura, kamar mandinya terpisah... tapi supaya nggak kelihatan norak, saya berlagak cool dan langsung ngeloyor ke dalam shower room sambil berusaha nggak melirik-lirik si bule ... (>.<)

Sekitar jam 8 lewat, kami sudah keluar dari hostel. Pagi itu, alih-alih berangkat naik ARL dari stasiun Ratchaprarop, kami memutuskan untuk berjalan kaki sejauh 1 stasiun ke Phaya Thai supaya bisa langsung naik BTS ke stasiun Mo Chit untuk mencapai destinasi pertama kami di Bangkok: Chatuchak Weekend Market!

Sampai di Stasiun Mo Chit, nggak perlu repot-repot melihat google map untuk menemukan lokasi Pasar Chatuchak, kami cukup mengikuti arah kerumunan orang saja. Belum sampai ke pasar, di pinggir jalan saja sudah banyak pedagang yang berjualan macam-macam, suasananya persis seperti di Jakarta.


Saya sempat mampir membeli mango sticky rice seharga 50 baht di salah satu penjaja makanan jalanan. Mangga yang manis + ketan yang legit + santan yang gurih = Yum!!


Nggak jauh dari sana, kami menemukan pintu masuk ke pasar. Dan penjelajahan kami di pasar akhir pekan terbesar di dunia itu pun dimulai!! 

Barang yang dijual di Chatuchak ini benar-benar beragam. Kayaknya kita bisa menemukan barang apapun di sini, asal kita mau -dan sanggup- mencarinya. Dari hiasan perunggu sampai bumbu dapur. Dari sutra thailand sampai bikini, pokoknya lengkap deh. 


Toko-toko di sini dikelompokkan ke dalam section-section berdasarkan jenis barang dagangannya, dan pengelola juga menyediakan peta gratis untuk memudahkan pengunjung menavigasi pasar yang luar biasa luas ini. Sayang kemarin kami nggak menemukan tempat yang membagikan peta sehingga terpaksa cuma mengandalkan insting, alias asal saja belok kiri-kanan dan masuk ke toko yang menarik hati. Sambil menelusuri pasar ini, saya sempat memperhatikan sekeliling dan menyadari kalau pengunjung pasar ini pun sama variatifnya dengan jenis barang yang dijual. Sepanjang jalan saya bisa mendengar Bahasa Jepang, Bahasa Korea, China, Indonesia, Inggris, dan segala rupa bahasa lain. Melihat bagaimana pemerintah Bangkok bisa membuat pasar seperti ini jadi destinasi turis dunia, saya jadi iri dan berandai-andai kalau pasar-pasar di Jakarta suatu saat juga bisa jadi seperti itu...


July 9, 2013

Ladurée Singapore

Jadi, saya memutuskan nggak menulis lengkap sisa perjalanan saya di Singapura. Kenapa? Pertama -obviously - karena saya malas. Kedua, karena setelah tancap gas di hari pertama, hari selanjutnya kita jadi bingung mau ngapain lagi dan berakhir hanya berputar-putar tidak jelas (^^;)... Kalau ada yang layak diceritakan, ya, mungkin tentang kunjungan kami ke Ladurée yang baru membuka cabangnya di Singapura beberapa bulan lalu.

When I first heard my friend mentioned about this place, I was like, "Ladu what?". Ya, mungkin saya kampungan atau apa, tapi saya sama sekali nggak tahu tempat yang namanya "Ladurée" ini, hell I don't even know how to pronounce it -_-; Baru setelah mengubek-ubek informasi di Google, saya ngeh kalau Ladurée ini adalah produsen cake dan pastries mewah dari Perancis yang terkenal sebagai pencipta macaron 2 tumpuk.

Oke. Perancis, Macaron, terkenal... sounds good so far, sampai saya mengetahui satu fakta yang mengguncang; harganya SGD 3.8 per butir. TIGA PULUH RIBU RUPIAH untuk satu gumpalan telur dan gula!?? French or not, there's no way I'm going to spend that kind of money on such a small lump of egg and sugar!

....

Or so I thought, sampai akhirnya saya tiba sendiri di toko Ladurée yang terletak di L2 departemen store Takashimaya, Singapura. 





Dekorasi toko yang begitu manis dan warna-warni macaron yang menggoda membuat iman saya goyah. Karena saya pikir, toh saya sudah ada di sana dan entah kapan bisa kembali lagi, saya memutuskan untuk merogoh kantung sedikit dalam dan patungan sama L membeli 1 kotak macaron.


Box of 8 edisi spesial Singapore ini harganya $38. Banyaknya varian rasa yang ditawarkan membuat kita bingung memilih, jadi kita pasrahkan saja sama mas penjaga toko untuk memilihkan "the recommended ones". Saya sama sekali nggak tahu apa yang dimasukkan si mas ke dalam kotak kami dan cuma   mengangguk-angguk tiap kali si Mas memasukkan macaron dan meminta persetujuan kami.
Setelah searching di internet, baru belakangan saya bisa mengidentifikasi sebagian nama macaron yang kami beli, yaitu: Marie Antoinette, Caramel with Salted Butter, Raspberry, Yuzu Ginger, Rose Petal,  dan Pistachio. Dua lagi... I have no idea >.<
Oh iya sebenarnya bisa saja kita beli satuan dengan harga $3.8 / piece yang dibungkus dengan bungkus kertas biasa... tapi karena kayaknya kurang oke kalau macaron secantik ini difoto cuma sama bungkus kertas, just for this once we agreed to pay extra for the lovely box.

Macaron-nya sendiri rasanya sesuai dengan harganya. Kulitnya lembut dan isinya lumer di mulut. Manisnya pun pas. My personal favorite was the caramel one. Biasanya saya nggak begitu suka caramel karena rasa manisnya yang cenderung terlalu kuat, tapi macaron caramel  with salted butter dari laduree ini rasa manis dan asin nya paaas banget, bikin pengen lagi  :9

Jadi kesimpulannya, apakah saya mau beli macaron Ladurée lagi? Mungkin. Kalau kebetulan saya sedang ada di Singapura, lewat di depan Takashimaya, dan kelebihan dolar di dompet ^^;

July 6, 2013

Lagi-lagi Singapura

*Uhuk uhuk*

Baru buka blog lagi setelah sekian lama dan sadar kalau entry terakhir saya adalah di bulan November 2012, sementara saat ini tahun 2013 sudah lewat setengahnya.
... Well, at least I live up to my title as a procrastinator!

Eniweiii, sekitar 2 minggu lalu saya kembali bertandang ke negeri tetangga, Singapura! Kunjungan kali ini tujuannya tak lain dan tak bukan adalah cuma iseng buang-buang duit aja, cos I have all the money in the world to waste untuk mengunjungi kawan kami si C yang tahun lalu gagal kami temui karena selisih jadwal.

Jadi, beginilah rangkuman perjalanan singkat (namun padat) kami ke negeri Singa pada Juni 2013 lalu

Perjalanan kami berawal dengan flight Mandala RI1861 yang dijadwalkan take-off pukul 07:00 pagi tapi molor sekitar setengah jam, as to be expected from an LCC...



Sekitar 1, 5 jam kemudian kami tiba di Bandara Changi, Singapura. Dan setelah berhasil melewati pemeriksaan barang bawaan yang ketat (saya kena body check dan  disuruh bongkar koper berkat bundelan jam tangan yang terdeteksi di dalamnya, tapi untung tidak dipermasalahkan lebih lanjut karena sepertinya si petugas berpikir saya nggak bisa bahasa Inggris :P Jadi ingat waktu tahun lalu kami di-escort ke gerbang imigrasi oleh petugas bersenjata laras panjang. Entah kenapa proses masuk saya ke negara satu ini nggak pernah 100% mulus ^^;) kami keluar bandara dan menemui si C yang sudah menunggu kami bersama kakaknya n her super cute nephew :D

Dari bandara, kami diantar kakak C dengan mobil ke hostel.

Hostel pilihan kami kali ini adalah Woke Home Hostel di dekat Stasiun MRT Clarke Quay. Pertimbangan utama tentu saja masalah harga; at USD 20 per pax / night this was the cheapest decent hostel I could find on Agoda (lagi-lagi saya cuma bisa mengurut dada sama mahalnya akomodasi di Singapura). Pertimbangan kedua adalah karena tempat ini berbentuk CAPSULE HOSTEL!  I had always wanted to try to sleep in one of those capsule beds :D

Setelah check in dan membayar deposit SGD 15 per orang, kami menuju kamar kami di lantai 4 untuk menaruh barang. I found the capsules to be quite decent. Setiap kapsul dilengkapi dengan lampu baca, socket, mini TV, headphone, dan matras yang cukup nyaman. Ukurannya pun cukup besar sehingga kita bisa duduk tegak tanpa membenturkan kepala ke langit-langit. Pokoknya, kalau dilihat sekilas, sih, tempat ini lebih dari cukup buat turis pelit macam saya yang hanya mencari tempat yang aman dan bersih untuk beristirahat di malam hari... sayang saya nggak bisa memberi ulasan lebih banyak karena ujung-ujungnya kami malah nggak jadi tidur di sana sama sekali xD (more on that later...)

Dari sana, kami melanjutkan perjalanan ke stasiun MRT Raffles Place. Walau Raffles Place memang sedikit lebih jauh dari Clarke Quay (menurut Mbah Google, jaraknya sekitar 800 m, but the heat made it feel like a 2 km walk), kami sengaja pilih berjalan kaki ke stasiun itu karena mau beli Singapore Tourist Pass (STP). 

Dengan STP di tangan yang memungkinkan kami untuk naik turun MRT maupun city bus sebanyak apapun selama 2 hari, kami ber-3 meluncur dengan MRT ke stasiun Sommerset untuk makan siang di...

Charlie Brown Cafe!


Karena kelaparan, tanpa ragu saya langsung pilih menu yang ada nasinya, Chicken Rice. Waktu makanannya datang, saya sempat dibuat kecewa sama porsinya yang -menurut saya- nggak sebanding sama banderol harga $8,8 nya, dan rasanya pun biasa banget. Tapi ya sudahlah, toh tujuan utama saya ke sana tercapai :

Foto Cappucino dengan latte art karakter Snoopy :P

Perut kenyang (well kinda), kita lanjut naik MRT lagi dan turun di stasiun Novena. Di sana kita janjian sama Sis Juwita dari kaskus untuk COD tiket Gardens By The Bay dan Singapore Flyer. Pokoknya lapak ini highly recommended deh, selain harga lebih murah, responnya juga cepat dan ramah. Saya nggak akan ragu menghubungi mereka lagi kalau saya atau keluarga mau ke SG dan butuh tiket murah lagi ^^b

Next stop adalah Stasiun Bugis. Kali ini tujuan kami bukan Bugis Street melainkan :

Haji Lane

Menurut info yang saya dapat dari blog orang-orang, Haji Lane ini adalah sebuah gang kecil dengan deretan butik-butik unik & lucu yang sedang happening untuk foto-foto unyu, makanya saya maksa untuk memasukkan tempat ini dalam itinerary kami. Dua teman saya sempat protes keras karena perjalanan dari stasiun Bugis ke tempat ini di tengah hari benar-benar membuat kulit terpanggang dan badan bersimbah keringat. Jaraknya sih sebenarnya nggak seberapa jauh, paling cuma sekitar 10-15 menit dari Bugis, tapi sadisnya sinar matahari memang bikin semangat anjlok... hingga ketika kami sampai di sana, kami sudah kehilangan nafsu untuk melihat-lihat terlalu lama dan hanya sempat foto-foto sedikit. 









Sebenarnya sih tempat ini cukup enak buat jalan-jalan, sayang kita ke sana pas sedang panas-panasnya, jadi bawaannya pingin cepat-cepat pergi aja. Pelajaran: lain kali kalau mau ke sana dan mengeksplorasi area ini sampai puas, lebih baik agak sorean waktu matahari sudah lebih bersahabat.

Puas bermandi keringat di Haji Lane, we headed back to Bugis and decided to make a pit stop at the mall untuk ngadem dan mengisi ulang tenaga sebelum ngesot ke destinasi selanjutnya:

Gardens By The Bay

Sayang pemandangan hari itu berkabut gara-gara asap dari kebakaran di Riau yang sedang meliputi Singapura :(



Puas mengitari taman Bay South dan jeprat-jepret Supertrees-nya yang futuristik, kita memutuskan untuk masuk ke 2  konservatorium berbayar : Flower Dome dan Cloud Forest yang tiketnya sudah kita beli lewat Sis Juwita tadi (U.P. 28 dolar untuk 2 conservatories tapi kita cukup bayar 23 dolar saja lewat lapak ini).


Waktu mau masuk Flower Dome, terjadi sedikit kepanikan saat kami menyadari sebuah masalah genting: BATERAI KAMERA SAYA HABIS dan saya satu-satunya yang bawa kamera (>o<;) Terpaksa, sambil menunggu kamera di-charge dengan powerbank, kami harus mengandalkan kamera HP untuk mengabadikan keindahan tempat ini, yang tentu saja terasa kurang afdol.

Flower Dome sendiri tempatnya sejuk dan asri. Jalan-jalan di dalam sini sambil melihat bunga dan hijau-hijauan setelah seharian dipanggang di bawah sinar matahari benar-benar menyejukkan badan & hati... walau saya sendiri bukan pencinta tumbuh-tumbuhan dan nyaris nggak tahu apa-apa soal bunga, saya menikmati kunjungan saya dan nggak merasa rugi sudah membayar tiket yang- buat saya- harganya tidak murah.
Enaknya lagi jalan-jalan di dalam sini adalah banyak drinking water tap gratis. Hehehe buat mahkluk onta yang selalu haus macam saya, ini fasilitas yang sangat penting, apalagi di SG air mineral botolan mahalnya amit-amit. Pokoknya tiap lihat keran air minum, langsung saja saya isi DUA botol air minum  -yang sengaja saya bawa dari Jakarta- sampai penuh :P




Waktu kami ke sana, kebetulan sedang ada ekshibisi "Flights of Fancy", jadi di mana-mana banyak hiasan balon udara warna-warni yang bisa jadi properti yang pas buat foto-foto narsis ala turis :)

Puas lihat bunga-bunga cantik di Flower Dome sekitar 1 jam, kita lanjut ke konservatorium berikutnya: Cloud Forest.

Ragam dan warna-warni bunga di sini memang nggak sebanyak di Flower Dome, tapi di sini ada satu fitur ikonik yang nggak kalah keren : "Cloud Mountain" setinggi 42 m dengan air terjun yang bikin udara di dalam jadi sangat sejuk (bahkan cenderung dingin). Untungnya pas masuk ke sini- tepat ketika baterai HP saya mulai sekarat -  baterai kamera saya sudah pulih dan siap beraksi kembali :)





Waktu akhirnya kami keluar dari Cloud Forest, jam sudah menunjukkan pukul 18:30. Di sana kami dijemput oleh kakak C dan suaminya dengan mobil untuk pergi makan malam.

Karena saya bilang sedang ngidam kari India, kami diajak ke sebuah restoran India "Zam Zam" yang berlokasi di Kampong Glam. Katanya sih restoran ini lumayan terkenal, dan melihat betapa penuhnya tempat ini ketika kami datang, saya percaya kalau itu benar. Yang unik, tempat ini punya kebijakan pembagian lantai yang "berkasta"; lantai 1 non AC, lantai 2 ber-AC dan untuk mendapat "hak" duduk di lantai 2, kita WAJIB pesan menu set. Kalau yang cuma mau pesan minum atau menu satuan, silakan panas-panasan di lantai 1 :P 
Our dinner!! Rasanya mantap dan memuaskan hasrat saya untuk makan real Indian food. And the best part is, kita ditraktir, hehehehe. Perut kenyang, dompet aman :D Thanks C's sister and brother in law!!
Selesai makan, sudah jam setengah delapan lebih, sementara di agenda kami masih tersisa Singapore Flyer dan Helix Bridge untuk dikunjungi. Pikir-pikir, kalau si C ikut kami berdua keliling, bisa-bisa dia harus pulang tengah malam sendirian. Karena nggak tega, saya dan L berinisiatif menawarkan untuk mengantar dia pulang ke apartemennya setelah acara jalan-jalan kami selesai, karena toh kami punya STP yang memungkinkan kami untuk naik MRT sepuasnya. Waktu dengar ide itu, kakak C malah bilang, "Kalau gitu, kalian sekalian nginap di tempat kita aja! Daripada udah jauh-jauh ke  apartemen kita terus harus balik ke hostel lagi"

Dan begitulah ceritanya, kenapa kami akhirnya tidak jadi menginap di hostel dan menghanguskan uang kamar yang sudah  dibayar di muka (untung kita ambil hostel yang paling murah, jadi nggak berasa rugi-rugi amat ^^;). Jadi dari restoran Zam Zam, kami meluncur ke hostel dengan mobil untuk ambil barang, terus didrop di Singapore Flyer sementara barang-barang kami dibawakan ke condo mereka.

Singapore Flyer

Sebenarnya tiket yang kami beli dari kaskus adalah tiket off peak yang cuma berlaku untuk entry sebelum jam 6 sore. Tapi karena Sis Juwita salah bawa tiket waktu COD, jadi kami dikasih tiket  all day dengan harga off peak (20 dolar, U.P. 33 dolar). Kata Sis Juwita, mungkin emang sudah rezekinya kita... hehe, makasih banyak ya Sis!!! Berkat itu, kita bisa menikmati pemandangan malam Singapura yang indah dari ferris wheel tertinggi di dunia.


Di dalam kapsul ferris wheel yang sepi. Saat itu,  kapsul kami hanya berisi 4 orang termasuk kami. 

Simply Breathtaking. Nggak rugi bayar 20 dolar untuk ini... tapi kalau harus bayar full 33 dolar mungkin saya mikir ulang :P

Helix Bridge 

Setelah penerbangan 30 menit kami dengan Singapore Flyer berakhir, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kami menyeret kaki menyusuri pedestrian walk ke tempat tujuan terakhir kami hari itu : Helix Bridge.

Waktu kami tiba, jembatan itu tampak ramai dengan turis yang asyik berfoto-foto. Dipikir-pikir Singapura ini luar biasa; bahkan jembatan penyeberangan pun bisa dibuat jadi objek wisata yang menarik turis internasional... 






Dan dengan demikian, semua tempat yang ada dalam "checklist" kami hari itu sukses kami kunjungi. Malam semakin larut, pegal di kaki kian tak tertahankan, baterai hape dan kamera pun sudah sekarat lagi, we decided that it was time to call it a day and get a good night sleep ^^