October 25, 2014

Pulau Dewata - Part 2: Jelajah Nusa Lembongan dan Ceningan

Day 2, 14 Oktober

Satu "penyakit" saya kalau lagi liburan adalah tidak bisa bangun siang! Agak menyebalkan, karena sudah pemahaman umum bahwa liburan adalah saatnya untuk bermalas-malasan,  tidur sampai puas. Dan penyakit ini kembali menyerang saya di Lembongan pagi itu. Entah kenapa , pukul 6 mata saya sudah terbuka lebar dan tak mau terpejam lagi. Nggak tahu mau ngapain, akhirnya saya memutuskan pergi ke luar, dan ketika membuka pintu balkon saya langsung disapa oleh pemandangan yang membuat saya mensyukuri penyakit ini,  for once .
Damainya pagi di Jungut Batu.  
Sayang, kamera saku dan hape tua saya nggak cukup handal untuk menangkap keindahan pemandangan di depan mata saya ketika itu sepenuhnya. 
Pukul 7, teman saya mulai bangun satu per satu. Rampung mandi dan beres-beres, kami menuju restoran hotel di bawah untuk sarapan yang sudah termasuk dalam room rate. Setelah itu, kami sempat jalan-jalan pagi sebentar, menikmati suasana pagi di Jungut Batu sebelum check out dari hotel.




Habis check out, kami langsung tancap gas. Kendaraan kami kali ini adalah 2 motor sewaan; 1 motor sewaan hari sebelumnya dan satu motor yang kami sewa pagi itu dari seorang bapak-bapak penjaga toko dekat hotel yang memberikan harga 60 ribu (dari harga awal 80 ribu) untuk sewa motor sampai pukul 3 sore.
Peta Nusa Lembongan - Nusa Ceningan
Tujuan pertama kami hari itu adalah mangrove forest. Di sana kami sudah janjian dengan seorang warga lokal bernama Pak Juni untuk melakukan mangrove tour jam 10 pagi. Nomor kontak Pak Juni (082144536765) kami temukan dari rekomendasi beberapa blog di internet. Sepertinya beliau memang sudah cukup ngetop di antara pelancong domestik yang ingin melakukan mangrove tour di Nusa Lembongan. Selain orangnya ramah dan cukup informatif saat memberikan tur, harga yang dia berikan juga cukup masuk akal untuk ukuran Lembongan di mana semua harga sepertinya sudah dikatrol menyesuaikan dengan standar bule. Kami mendapat harga 100 ribu berempat untuk tour mangrove selama 20 menit dengan perahu kecil yang dikenal juga sebagai jukung.

Oh iya, sekedar tips, kalau menghubungi Pak Juni, langsung telepon saja, jangan SMS karena si Bapak bilang nggak bisa SMS-an ^^



Kalau kepo sama tampang Pak Juni, itu orangnya di belakang :)

Selesai tur mangrove, kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan kuning yang menghubungkan Nusa Lembongan dengan Nusa Ceningan. Perjalanan ke sana, meski tak seberapa jauh, ternyata tak semudah dibayangkan, terutama buat Lidya yang masih super newbie dalam hal permotoran. Medan yang tidak bersahabat untuk pemula dengan jalan-jalan berlubang dan tanjakan/turunan curam membuat kami sedikit sport jantung. Saya yang dibonceng hanya bisa berdoa tak henti-hentinya agar kami selamat sampai tujuan... Semoga keinginan saya menghemat uang dengan memaksa Lidya bawa motor nggak harus dibayar dengan keselamatan kami (>.<)

Untungnya, doa itu dikabulkan. Sekitar setengah jam kemudian, jembatan kuning tujuan kami tampak di depan mata. Dengan semangat, kami pun menyeberang ke Nusa Ceningan.
The Yellow Bridge
Menyeberanginya menjadi tantangan tersendiri karena lantai kayunya yang berderik-derik ketika kita melintas cukup membuat deg-degan untuk pembawa motor pemula -dan orang yang diboncengnya.

Sampai di Ceningan, first thing first; SELFIE!
Selat Ceningan
*Bersambung*

Oke, setelah berminggu-minggu, saatnya melanjutkan cerita yang terputus sebelum saya terlanjur lupa semuanya - just as a future reference for myself.

Jadi, dari jembatan kuning, niat kami melipir ke laguna biru alias Blue Lagoon. Tapi setelah perjalanan +/- 15 menit melalui jalan-jalan berliku, berlubang, naik turun undakan terjal, dan satu kali insiden di mana motor saya dan Lidya terjungkal di tanjakan curam sampai harus dibantu penduduk setempat untuk naik (><), we found ourselves stranded in another beach instead, Secret Point Beach.



As the name suggests, "secret point" ini sepertinya memang bukan pantai umum. Tapi, sama seperti di Dream Beach, kami belagak bodoh saja, numpang lewat halaman belakang Secret Point Huts, mengabaikan tatapan kurang merestui dari orang-orang hotel (Sorry Bli!)


Waktu kami tiba siang itu, pantai kecil ini benar-benar sepi dari pengunjung. Indah dan tenang, rasanya seperti pantai milik kami sendiri! (kalau kita mengabaikan tatapan menghujam orang hotel di punggung kita...)
Sayang, terik matahari yang begitu sadis dan keterbatasan waktu membuat kami tak bisa berlama-lama. Habis leyeh-leyeh sebentar, kami memutuskan langsung kembali ke Nusa Lembongan untuk mencari makan siang.

Maka kembalilah kami menaiki motor, melewati perkampungan petani rumput laut, menikmati pemandangan laut biru yang cantik di sepanjang jalan, daaan sempat jatuh *lagi* waktu menyeberang jembatan kuning (kali ini tanpa ada yang membantu. Special shout-out buat Lidya, si wanita perkasa yang -walau jatuh bangun-berhasil membawa kami bolak balik dengan selamat tanpa kekurangan satu bagian tubuh pun :D).

Random view di Nusa Ceningan dari atas motor
Common view di Nusa Lembongan & Ceningan; hamparan rumput laut yang dijemur.
Budidaya rumput laut merupakan mata pencaharian utama penduduk kedua pulau ini- selain bisnis pariwisata yang bertumbuh pesat, tentunya
Kembali di Nusa Lembongan, karena masih penasaran kami mencoba mendatangi warung Bumbu Maria lagi. Tapi, mungkin memang nggak jodoh, lagi-lagi kami menemukan tanda "CLOSED" terpasang di depan pintunya. Kecewa, terpaksa kami cari tempat lain untuk mengisi perut. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada "BALI ECO DELI" yang namanya saya ingat disebut sebagai one of Nusa Lembongan's top 10 restaurants di Tripadvisor.

Sesuai tagline-nya, "Healthy food and drinks in paradise", tempat ini menyajikan makanan yang 100 % sehat & organik. Saya sih tidak keberatan makan makanan sehat every once and a while, tapi begitu membuka menu dan menemukan bahwa makanan paling "berat" yang tersedia adalah SALAD (dalam beragam variasi), kami tahu bahwa kami harus mencari tempat lain untuk memenuhi tuntutan cacing-cacing carnivora di dalam perut. Jadi, di sini kami hanya memesan jus & smoothies. Saya sendiri memilih tropical smoothies (30K) plus sepotong brownies (20K).


Dan di luar dugaan, satu gelas smoothies dan sepotong brownies ini sudah cukup mengenyangkan buat saya! Akhirnya, waktu 3 teman saya memutuskan bergeser ke Warung Made di sebelah untuk "makan betulan", saya hanya numpang duduk & minum.

[Review lengkap saya tentang Bali Eco Deli bisa dibaca di TRIPADVISOR]

Habis makan, karena sudah kepanasan, kelelahan, dan tidak punya banyak waktu lagi, kami kembali ke hotel untuk menunggu pick up service dari Sugriwa Express sambil menikmati pemandangan "SANTORINI Ala Ala Bali" untuk terakhir kalinya.



Sekitar pukul 3 lewat kami sudah dijemput dan dibawa ke kantor Sugriwa Express untuk menunggu boat yang akan membawa kami kembali ke Pulau Bali.


Pukul 16:00, saatnya mengucapkan selamat tinggal pada Nusa Lembongan. Fastboat kami perlahan bergerak menjauhi bibir pantai, menandai dimulainya kembali 30 menit perjalanan mengarungi laut yang penuh guncangan dan cipratan air.

Pulau Dewata, here we come!!

October 19, 2014

Pulau Dewata - Part 1: Menginjak Nusa Lembongan

Sebenarnya, setelah perjalanan ke Jepang akhir Juni - awal Juli lalu, saya bertekad untuk tidak pergi ke mana-mana lagi sisa tahun ini. Ya, sehemat-hematnya mengatur budget, perjalanan ke negeri sakura selama 9 hari itu memang cukup menguras tabungan. Jadi demi kesehatan finansial dan tekad menabung untuk ultimate goal saya; Euro trip, saya berencana untuk anteng saja di Jakarta sampai tahun depan.

Namun, rencana tinggal rencana…

Ketika teman saya Echa mendadak mengajak liburan ke Bali, mulut saya dengan cepat mengatakan “Ayo!” sebelum otak sempat mengirimkan sinyal berhenti. I just couldn’t help myself. Godaan untuk keluar dari sesaknya keseharian di kota Jakarta terlalu kuat untuk dilawan.

Nah, kebetulan, sebelum ada ajakan dari Echa, saya dan teman-teman di sini sudah sempat membicarakan soal liburan bareng ke pulau di sebelah tenggara Bali, Nusa Lembongan. Saya pikir, daripada berangkat 2 kali ke Bali, lebih baik 2 trip itu digabung saja sekalian. Jadi, saya usul ke Echa untuk memasukkan 1 malam di Nusa Lembongan ke dalam itinerary kami. Setelah Echa setuju, saya coba menyinggung rencana perjalanan ini ke teman-teman di sini. Dan gayung bersambut, Lidya dan Negis tertarik. Jadi, diputuskanlah untuk pergi berempat ke Pulau Dewata!

Perjalanan kami pada 13 Oktober lalu berawal dengan penerbangan Airasia pukul 08:45 pagi yang - tumben-tumbenan- berangkat 100% tepat waktu dari Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan selama 1 jam 40 menit berjalan mulus, nyaris tanpa kejadian istimewa, kecuali ketika tiba-tiba, out of nowhere, muncul dua orang pria (sepertinya crew airasia yang sedang off duty) yang mulai menyanyi dengan iringan gitar di bagian depan kabin layaknya pengamen di bus kota. Oke, mungkin ini maksudnya sejenis in flight entertainment. Niatnya patut dihargai, tapi lain kali mungkin mereka bisa menampilkan someone who can actually sing... just a suggestion :D

Anyway, akhirnya kami tiba di bandara Ngurah Rai, Bali! 
Sempat pangling saya waktu menjejakkan kaki ke area kedatangannya. Yang masih melekat di ingatan saya adalah bandara tua nan usang seperti yang terakhir kali saya lihat tahun 2009. Tapi ternyata setelah proses renovasi dan reopening awal tahun ini, Bandara Ngurah Rai sekarang jadi jauh lebih keren, layak disebut bandara internasional. Good job Angkasa Pura! Jadi iri. Kapan ya giliran Jakarta…

Oke, dari Ngurah Rai, kami meluncur ke tempat penyeberangan di Sanur. Perjalanan melalui tol Mandara tidak memakan waktu lama, kurang lebih 30 menit kami sudah tiba di pantai Sanur yang dipenuhi kantor-kantor penyedia jasa penyeberangan ke Nusa Lembongan. Berdasarkan hasil online research sebelumnya, kami langsung mengarah ke kantor Sugriwa Express. Di sana kami dapat harga Rp 75 ribu sekali jalan untuk fastboat ke Nusa Lembongan. Itu harga "lokal indonesia". Kalau "lokal bali", harganya lebih murah : Rp 50 ribu. Sedangkan turis bule harganya berlipat-lipat, kalau tidak salah sekitar 550 rb pp (!) Yep, that's Bali!
Fastboat Sugriwa Express

Sesuai Jadwal, fastboat kami meninggalkan Sanur pukul 13:30. Oh iya sebelum naik kapal, semua penumpang diminta melepas alas kaki untuk dikumpulkan dalam satu keranjang. Mungkin supaya kebersihan di dalam kabin tetap terjaga. Selain itu, semua koper / tas besar juga dikumpulkan dan diangkut staff sampai ke dalam kapal. Jadi tidak perlu takut ribet kalau bawa koper yang agak besar sekalipun.


Foto di atas diambil waktu kita baru mulai duduk di dalam boat. Semua masih ceria, semangat foto-foto... sampai boat mulai bergerak meninggalkan bibir pantai dan diombang-ambingkan ombak tinggi. Jangankan foto-foto, sekedar menikmati pemandangan laut biru di luar pun rasanya sudah nggak sanggup. Apalagi, dengan polosnya kami memilih tempat duduk di deretan depan. Aduh, perut seperti dikocok-kocok. Rasanya semacam naik wahana jet coaster mini di taman hiburan, tapi dengan durasi 30 menit. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya melirik jam, berharap setengah jam cepat berlalu, sambil terus mencengkeram erat life vest yang dimasukkan di saku kursi depan... you know, just in case... (>.<)

Puji Tuhan, sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di Pantai Jungut Batu, Nusa Lembongan dengan selamat. Dan ajaibnya, tidak ada yang mabuk laut sepanjang perjalanan, not even me! :D
Dari pantai, kami diarahkan ke kantor Sugriwa Express di dekat sana untuk menunggu mobil yang akan membawa kami dan penumpang lain ke penginapan masing-masing. Tak lama menunggu, diantarlah kami ke penginapan kami untuk malam itu : Lembongan Reef Bungalow.

Lembongan Reef Bungalow ini kamarnya berupa vila-vila di atas bukit, semakin besar nomor vilanya, semakin jauh kita harus mendaki anak tangga. Kebetulan kami memesan family room kapasitas 4 orang dan mendapat villa nomor 7, jadi kami harus memanjat naik lumayan tinggi. Tapi melihat pemandangan dari balkon kamar kami, semua kepenatan terbayar tuntas. 

Surga membentang di depan mata!
Vila-vila di Lembongan Reef Bungalow
Habis menaruh barang dan menghela napas sebentar, kami tak membuang-buang waktu untuk mulai menjelajah pulau. Di resepsionis, kami bertanya moda transportasi apa yang bisa kami pakai. Mas di sana menyarankan menyewa sepeda motor karena menyewa mobil terlalu mahal (800 ribu / hari!!). Nah susahnya kalau pakai motor, di antara kami berempat cuma Echa yang bisa bawa motor. Akhirnya setelah bingung-bingung kami memutuskan untuk menyewa satu motor dan 2 ojek. Mas resepsionis pun mengatur penyewaan motor dan ojek itu. Masalah kemudian adalah harga. Untuk motor kami mendapat harga 100 ribu untuk 24 jam beserta bensinnya (yang kemudian baru kami tahu kalau seharusnya masih bisa ditawar lagi, terutama kalau kita menyewa dari luar hotel). Tapi untuk ojeknya, mereka meminta harga 150 ribu per motor hanya untuk ke 2 spot saja!! Setelah proses tawar menawar yang alot, mereka cuma mau turun sampai harga 100 ribu per motor... karena merasa tidak ada pilihan lain,  dan capek berdebat lebih jauh, akhirnya kami menyerah. (lagi-lagi baru kemudian kami sadar bahwa kita bisa mendapat harga jauh lebih murah dari orang-orang di pinggir jalan, bukan melalui hotel).

Spot pertama yang kami tuju adalah Warung Bumbu Maria, yang di tripadvisor disebut sebagai warung terbaik di Nusa Lembongan. Tapi sedihnya, sudah jauh-jauh (dan mahal-mahal menyewa ojek), waktu tiba di sana ternyata warungnya tutup. Ya sudah, dengan menelan kecewa, terpaksa kami lanjut ke spot berikutnya : Dream Beach. 

Perjalanan dari Warung Maria ke Dream Beach tidak terlampau jauh (biarpun mas ojeknya berkeras bayar 100 ribu itu murah karena lokasinya "dari ujung ke ujung", pada dasarnya Nusa Lembongan itu sendiri memang tidak terlalu besar, jadi "dari ujung ke ujung" nya mereka pun paling cuma beberapa kilometer. Malah saya menyaksikan sendiri ada bule yang bisa keliling pulau berjalan kaki! That's how small the island is, meski saya sendiri nggak akan pernah mempertimbangkan jalan kaki berkilo-kilo meter di bawah terik matahari yang begitu menusuk.).

Di perjalanan kami sempat melewati Panorama Point dengan pemandangannya yang indah.
Panorama Point, d iambil dari atas ojek yang melaju kencang


This is how we roll in the island!
Notice we didn't wear helmets! Bukan karena nggak mau, tapi memang nggak disediakan :(
DO NOT TRY THIS AT HOME!
Tak lama, kami tiba di Dream Beach. Meski ini sebenarnya pantai umum, akses masuk ke pantai tersebut cuma ada 1, yaitu melalui kafe di sana. Entah apakah seharusnya kami memesan minum di sana sekedar untuk "biaya lewat" atau tidak, tapi kami memutuskan untuk bermuka tebal dan numpang lewat begitu saja, mengacuhkan tatapan staf kafe, langsung menuju pantai.



Kafe yang kami lalui untuk masuk ke area pantai
Area pantai dream beach memang tidak besar, tapi tempatnya sepi (mungkin juga karena kemarin sedang low season), pasirnya putih, dan airnya jernih mengundang. Menyenangkan untuk duduk berlama-lama memandangi ombak di bawah bayangan batu karang besar yang menghalangi sengatan matahari.





Puas bermain-main di pantai, kami  berjalan kaki ke destinasi selanjutnya tak jauh dari sana, Devil's Tear.




Ombak tinggi berderu-deru menghantam tebing karang. Dahsyat! Kalau lihat foto-foto di instagram, sepertinya kita bisa mendapat foto spektakuler dengan berdiri atau duduk di tepi tebing, berlatar deburan ombak. Tapi karena saya tidak bisa berenang dan parno melihat tingginya ombak, saya memilih  berdiri di jarak aman dan foto-foto dari jauh saja. Safety first, right?! O

Sambil istirahat di dekat Devil's Tear, kami sempat mendiskusikan soal transportasi hari berikutnya. Kalau hari ini untuk 2 spot saja kami harus bayar 100 rb / ojek, bagaimana besok kalau mau jalan-jalan seharian? Kemudian, entah bagaimana, Echa dapat ilham; kita suruh Lidya belajar naik motor supaya besok tinggal sewa motor! Jadilah Lidya langsung kursus kilat naik motor dari Echa di sana saat itu juga. Mungkin memang dasarnya bakat nyetir (?), tidak berapa lama, Lidya sudah bisa mengendarai motor meski masih sedikit oleng dan ragu-ragu... But that's good enough for us, daripada bayar ojek mahal-mahal.  Kita anggap Lidya sudah bisa naik motor, besok tinggal sewa motor dan saya dibonceng. Done deal! Apparently, in this case, money beats safety :D 

Selesai di Devil's Tear, kami telepon tukang ojek yang tadi untuk minta dijemput kembali ke daerah penginapan kami di Jungut Batu. Meski katanya sunset di Dream Beach cukup mengagumkan, kami memilih mengejar sunset sambil duduk-duduk cantik di The Deck, tak jauh dari Lembongan Reef Bungalow.




Pesanan kami; pizza margherita dan 2 cocktails yang sedang harga spesial Happy Hour, selain itu juga ada 2 jus pesanan Echa & Negis. Harga di tempat ini memang tergolong mahal, tapi layak untuk sekedar mencari pengganjal perut sambil duduk-duduk menikmati suasana dan pemandangan.
Cocktail : 100K. This breathtaking view: priceless!
Ketika pesanan kami habis tersantap, semburat merah sudah mewarnai langit. Matahari perlahan menghilang di balik garis laut. Perut pun mulai keroncongan. Memang, sepotong pizza margherita dan satu gelas cocktail tidak mungkin mengenyangkan. Jadi, setelah "makan pencitraan"  ini, kami beranjak pergi mencari makan yang mengenyangkan dengan harga yang lebih bersahabat. 

Maka, berjalanlah kami menyusuri pantai Jungut Batu. 


Senja di pantai Jungut Batu

Hingga tibalah kami di warung kecil bernama Warung Meal House 99 

Warung with a view

Sembari menikmati sisa-sisa senja, kami menyantap nasi campur dan babi sayur di warung tersebut sebagai makan malam. Rasanya -meski nggak istimewa- cukup memuaskan, harganya terjangkau (untuk ukuran warung di Lembongan di mana semua harga sepertinya disesuaikan dengan standar turis asing), plus dapat bonus pemandangan senja yang cantik. I really can't complain.

Selesai makan, langit sudah benar-benar gelap. Perut kenyang, badan pun sudah lengket oleh keringat dan udara laut yang bergaram, we decided to call it a day. Saatnya kembali ke hotel untuk beristirahat. 

*Review saya tentang hotel Lembongan Reef Bungalow yang sedikit mengecewakan karena masalah pendingin ruangan yang tidak bekerja bisa dilihat di tripadvisor 

January 1, 2014

Flash Trip ke Bandung

Jadi, beberapa Minggu lalu, saya dan keluarga berkesempatan liburan singkat ke Bandung. Tujuan utama kunjungan kami kali ini adalah Floating Market Lembang yang sudah cukup lama membuat saya penasaran, ingin membandingkan dengan floating market yang ada di Bangkok.

Sekitar pukul 6 pagi kami sudah berangkat dari rumah dengan mobil dan baru tiba di Floating Market Lembang pukul 11:30 siang! Yak, it took us 5 and a half hour to get to this place berkat macet  di tol dan di dalam kota Bandung plus sempat nyasar gara-gara navigasi Google Maps yang membawa kami melewati jalan-jalan tikus yang akhirnya malah bikin berputar-putar. Memang teknologi nggak selalu bisa diandalkan 100%, ujung-ujungnya tetap saja kami harus memakai cara manual : bertanya sama orang-orang lokal. Untungnya orang-orang Bandung yang kami temui selalu mau memberi petunjuk jalan dengan ramah.

Ketika kami tiba, tempat ini sudah mulai ramai dipadati pengunjung yang didominasi oleh keluarga. Maklum saja, sudah masuk musim liburan sekolah. Biaya masuk tempat ini Rp 10.000 / orang, sudah termasuk welcome drink berupa minuman hangat (bisa pilih teh, kopi, atau cokelat panas). Di depan kita juga bisa membeli koin yang akan digunakan untuk transaksi di dalam area Floating Market karena memang semua penjual di sini tidak menerima uang tunai. Koin ini tersedia dalam pecahan 5000 / 10000/ 50000 dan kalau kelebihan nggak bisa di-refund, jadi beli secukupnya saja. Kalau kurang, di dalam juga ada tempat pembelian koin.





Pemandangan dan suasana di tempat ini memang sangat menyenangkan. Danau buatan yang dikelilingi gunung dan dipenuhi tumbuh-tumbuhan hijau membuat suasana asri semakin terasa. Dari sisi pemandangan, harus saya akui, floating market yang saya kunjungi di Bangkok nggak ada apa-apanya. Selain makan, di tempat ini juga banyak aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung. Kita bisa naik sampan menyeberangi danau, naik kano, memetik stroberi, memberi makan hewan, dan...yang sepertinya jadi favorit para pengunjung: praktek  narsisme dengan latar pemandangan indah. Hehehe








Tapi kalau dari sisi konsep "pasar terapung" nya sendiri, terasa agak kurang. Karena yang "terapung" hanya penjualnya saja, yang berjualan di dalam perahu-perahu di pinggir danau, sedangkan pengujung tetap membeli dan makan di darat. Rasa makanan yang dijajakan juga biasa-biasa saja, dan harganya cenderung mahal untuk kelas jajanan. Tapi yah, anggap saja kita membayar sedikit mahal untuk menikmati pemandangan / suasana. Kalau cari makan enak dan murah, nanti saja di kota Bandung.



Puas foto-foto, makan, dan menikmati suasana, kami turun menuju hotel kami di kota Bandung, The Travelhotel Cipaganti.

Kami sudah memesan 2 kamar di hotel milik grup Cipaganti ini melalui rajakamar 2 hari sebelumnya. Dengan membayar Rp 810.000 kami sudah mendapatkan 2 kamar  executive twin yang cukup luas, bersih dan nyaman, dengan pemandangan menghadap kota bandung berlatar pegunungan yang indah. Lokasi tempat ini juga lumayan strategis karena dekat dengan Jalan Setiabudi, hanya saja letaknya agak masuk ke dalam sebuah kompleks perumahan elite, sehingga tamu yang tidak membawa kendaraan pribadi mungkin akan sedikit kesulitan untuk menemukan transportasi umum. Untungnya, mereka menyediakan layanan shuttle gratis untuk tamu hotel ke beberapa titik di dalam kota seperti Mall Paris Van Java dan tempat-tempat lain yang nggak saya ingat ^^;

Setelah beristirahat sebentar di hotel, kami memutuskan untuk pergi makan malam ke Sapulidi. 

Mencapai restoran sekaligus resor yang terletak di Jl. Sersan Bajuri, Lembang ini membutuhkan sedikit perjuangan. Bukan karena letaknya jauh atau sulit ditemukan, tapi karena akses jalan ke sana yang sangat jelek dan berlubang-lubang. Selama perjalanan, perut ini serasa dikocok-kocok.
Tapi, semua itu terbayar begitu kami tiba dan disuguhi pemandangan sawah buatan yang asri dengan nuansa tradisional yang kental. Rasanya damai. 
The Entrance
Saung tempat makan
Sawah
Area Resor di atas danau
 Dan untuk makanan yang kami pesan:

Ikan goreng, ayam bakar, tumis buncis, sayur asam, dan gulai kambing. Entah karena saya kelaparan akibat siangnya nggak kenyang makan di floating market atau karena terbawa suasana dan udara yang sejuk, semua makanan yang saya cicipi di sini terasa ekstra lezat. Selain rasanya enak, harganya pun masih masuk akal; untuk makanan sebanyak ini total tagihan yang kami bayar sekitar Rp. 400 ribu. Pokoknya memuaskan..

Coba saja akses jalan ke sana lebih bersahabat, mungkin ini bisa jadi surga kecil yang sempurna. 

September 11, 2013

Sawadeeka! Bangkok - Part 2

Hari ke-3 : Shop & Splurge

Hari ini kami akan pindah ke hotel Muangphol Mansion di daerah Siam. Bukan karena saya shock lihat bule telanjang berkeliaran... bukan... tapi memang dari awal kami cuma book 2 malam di Link Corner dan sudah pesan kamar di Muangphol Mansion untuk 3 malam sisanya supaya bisa lebih dekat dengan area downtown-nya Bangkok. 
Sekitar pukul 9 kami sudah check out dan menitipkan koper di resepsionis hostel supaya kami bisa mampir dulu ke satu mall yang letaknya nggak jauh dari sana: Platinum Fashion Mall.
Mencapai Platinum dari Link Corner nggak susah, apalagi dengan panduan google map di tangan :)  Begitu keluar hostel, ambil jalan yang ke kanan (ke arah stasiun Ratchaprarop) lalu terus saja jalan lurus sekitar 600 meter sampai ketemu perempatan besar dan belok kanan. Jalan lurus lagi sekitar 200 meter dan mall-nya akan kelihatan di sebelah kiri jalan.


Platinum Fashion Mall ini kalau di Jakarta sebenarnya lebih mirip ITC, cuma yang dijual khusus produk fashion berupa pakaian dan segala rupa aksesorisnya. Selain itu, tempatnya lebih terang, lorong-lorongnya lebih lapang, dan secara keseluruhan terkesan lebih rapih dari ITC di Jakarta. Dengar-dengar, di sinilah orang-orang Indonesia suka belanja kulakan untuk dijual lagi di butik-butik maupun online shop. Dan memang waktu di sana, saya beberapa kali berpapasan dengan orang Indo yang belanja sambil menggeret-geret koper besar :) Kalau kami berdua sih cuma belanja santai saja. Kalau lihat benda yang pas di hati dan di kantung ya dibeli.
Barang-barang di sini kebanyakan sudah harga pas, nggak bisa ditawar. Kecuali kalau kita beli minimal 3, maka kita akan mendapat wholesale price alias harga grosir. Kadang-kadang beda harga satuan dan grosirnya bisa lumayan jauh. Seperti sebuah kaus lucu yang saya beli, kalau beli satu, harganya 250 Baht, tapi kalau beli 3 harganya jadi 150 Baht/ piece. Lumayan, 'kan? Jadi atas nama hukum ekonomi dan prinsip nggak mau rugi, langsunglah kami bungkus 3 potong... 
Pokoknya shopaholics yang suka berburu barang-barang murah tapi oke pasti senang banget di sini. Harganya relatif murah, pilihan modelnya beragam, mall-nya pun nyaman. Kalau nggak ingat ini baru awal hari ke-3 dan saya masih perlu menyimpan uang untuk hari-hari berikutnya, bisa-bisa saya  juga menggila di sana. Satu-satunya kekurangan dari belanja di sini adalah rata-rata bajunya nggak boleh dicoba, jadi make sure you know your size before you come

Setelah puas menjelajahi semua lantai mall ini dan makan siang di food court-nya, kami kembali ke hostel untuk mengambil koper dan langsung cabut ke Muangpol Mansion dengan taksi.

Muangphol Mansion. Kata pertama yang terlintas di benak saya ketika melihat gedung hotel ini adalah, "TUA". Dan setelah masuk ke dalam, kesan tua dan usang itu semakin kuat. Lorong & lift-nya berbau lembab. Colokan listrik di kamar nggak bisa berfungsi kalau lampu nggak dinyalakan semua (??). Keran shower pun harus dinyalakan lamaa sekali (lebih dari 15 menit!) sampai air panasnya keluar, and that's if you're lucky. Tapi, namanya juga hotel murah, cuma 330 rb-an per malam di Agoda, what can you expect? Yang terpenting - dan menjadi pertimbangan utama saya saat memilih hotel ini - adalah: lokasinya mantap. Nggak sampai 5 menit jalan kaki ke stasiun National Stadium, 5 menit dari MBK, dan cuma 10 menit jalan kaki ke Stasiun Siam dan semua mall di sekitarnya. You can't ask for a better location.
Jadi, setelah menaruh koper di hotel, kami langsung menyeberang ke MBK Center.


MBK Center ini katanya juga salah satu mall favorit orang Indonesia, tapi terus terang, waktu di sana saya nggak begitu terkesan. Sejauh mata memandang, isinya ya begitu-begitu saja; baju, sepatu, tas, aneka rupa oleh-oleh khas Thailand, more bags, more shoes... and so on... Di sana saya cuma mampir beli tas untuk oleh-oleh di Naraya lalu nemenin Echa beli koper di Tokyu Department Store. Oh iya, sempat beli sepatu flats lucu juga di lantai dasar. Hehe. Memang namanya cewek, biar katanya nggak minat, tetap saja keluar bawa tentengan...

Waktu lihat-lihat di lantai 2, nggak sengaja kami melihat nail salon bernama Red Nails. Tempatnya penuh dengan bule-bule yang sedang dimeni-pedi. Tergoda untuk memanjakan diri sedikit, kami memutuskan untuk masuk dan mencoba paket manicure-pedicure mereka. And I ended up regretting my decision.. Mungkin karena tempatnya ramai, jadi mereka kerjanya seperti asal cepat selesai. Mbak-mbak yang mengerjakan kuku saya nggak rapi memoleskan kuteksnya. Saya nggak tahu apa saya saja yang sial dapat mbak-mbak yang kerjanya asal begitu atau memang semua stafnya seperti itu. Padahal harga paket meni-pedi mereka nggak murah; 700 Baht alias hampir Rp. 250 ribu. Mending meni pedi di salon di Jakarta, deh :(
My nalis after the-not-so-satisfying-mani-pedi-session that cost me 700 Baht. Nggak lama setelah itu, kuteksnya langsung bocel-bocel. Entah saya yang  ceroboh banget atau kualitas kuteksnya yang jelek. I remember seeing the label "OPI" on their nail polishes, though. So, yeah, it was most probably my own fault..

Habis meni-pedi, kami kembali ke hotel untuk menaruh barang-barang dan membetulkan make-up yang sudah luntur oleh keringat. Ya, kami harus dandan cantik karena malam ini kami mau ke salah satu sky bar yang paling happening di Bangkok: Sirocco! 

Tapi sebelum itu, ada satu tempat yang mau kami kunjungi lebih dulu, yaitu Asiatique the Riverfront.