July 6, 2013

Lagi-lagi Singapura

*Uhuk uhuk*

Baru buka blog lagi setelah sekian lama dan sadar kalau entry terakhir saya adalah di bulan November 2012, sementara saat ini tahun 2013 sudah lewat setengahnya.
... Well, at least I live up to my title as a procrastinator!

Eniweiii, sekitar 2 minggu lalu saya kembali bertandang ke negeri tetangga, Singapura! Kunjungan kali ini tujuannya tak lain dan tak bukan adalah cuma iseng buang-buang duit aja, cos I have all the money in the world to waste untuk mengunjungi kawan kami si C yang tahun lalu gagal kami temui karena selisih jadwal.

Jadi, beginilah rangkuman perjalanan singkat (namun padat) kami ke negeri Singa pada Juni 2013 lalu

Perjalanan kami berawal dengan flight Mandala RI1861 yang dijadwalkan take-off pukul 07:00 pagi tapi molor sekitar setengah jam, as to be expected from an LCC...



Sekitar 1, 5 jam kemudian kami tiba di Bandara Changi, Singapura. Dan setelah berhasil melewati pemeriksaan barang bawaan yang ketat (saya kena body check dan  disuruh bongkar koper berkat bundelan jam tangan yang terdeteksi di dalamnya, tapi untung tidak dipermasalahkan lebih lanjut karena sepertinya si petugas berpikir saya nggak bisa bahasa Inggris :P Jadi ingat waktu tahun lalu kami di-escort ke gerbang imigrasi oleh petugas bersenjata laras panjang. Entah kenapa proses masuk saya ke negara satu ini nggak pernah 100% mulus ^^;) kami keluar bandara dan menemui si C yang sudah menunggu kami bersama kakaknya n her super cute nephew :D

Dari bandara, kami diantar kakak C dengan mobil ke hostel.

Hostel pilihan kami kali ini adalah Woke Home Hostel di dekat Stasiun MRT Clarke Quay. Pertimbangan utama tentu saja masalah harga; at USD 20 per pax / night this was the cheapest decent hostel I could find on Agoda (lagi-lagi saya cuma bisa mengurut dada sama mahalnya akomodasi di Singapura). Pertimbangan kedua adalah karena tempat ini berbentuk CAPSULE HOSTEL!  I had always wanted to try to sleep in one of those capsule beds :D

Setelah check in dan membayar deposit SGD 15 per orang, kami menuju kamar kami di lantai 4 untuk menaruh barang. I found the capsules to be quite decent. Setiap kapsul dilengkapi dengan lampu baca, socket, mini TV, headphone, dan matras yang cukup nyaman. Ukurannya pun cukup besar sehingga kita bisa duduk tegak tanpa membenturkan kepala ke langit-langit. Pokoknya, kalau dilihat sekilas, sih, tempat ini lebih dari cukup buat turis pelit macam saya yang hanya mencari tempat yang aman dan bersih untuk beristirahat di malam hari... sayang saya nggak bisa memberi ulasan lebih banyak karena ujung-ujungnya kami malah nggak jadi tidur di sana sama sekali xD (more on that later...)

Dari sana, kami melanjutkan perjalanan ke stasiun MRT Raffles Place. Walau Raffles Place memang sedikit lebih jauh dari Clarke Quay (menurut Mbah Google, jaraknya sekitar 800 m, but the heat made it feel like a 2 km walk), kami sengaja pilih berjalan kaki ke stasiun itu karena mau beli Singapore Tourist Pass (STP). 

Dengan STP di tangan yang memungkinkan kami untuk naik turun MRT maupun city bus sebanyak apapun selama 2 hari, kami ber-3 meluncur dengan MRT ke stasiun Sommerset untuk makan siang di...

Charlie Brown Cafe!


Karena kelaparan, tanpa ragu saya langsung pilih menu yang ada nasinya, Chicken Rice. Waktu makanannya datang, saya sempat dibuat kecewa sama porsinya yang -menurut saya- nggak sebanding sama banderol harga $8,8 nya, dan rasanya pun biasa banget. Tapi ya sudahlah, toh tujuan utama saya ke sana tercapai :

Foto Cappucino dengan latte art karakter Snoopy :P

Perut kenyang (well kinda), kita lanjut naik MRT lagi dan turun di stasiun Novena. Di sana kita janjian sama Sis Juwita dari kaskus untuk COD tiket Gardens By The Bay dan Singapore Flyer. Pokoknya lapak ini highly recommended deh, selain harga lebih murah, responnya juga cepat dan ramah. Saya nggak akan ragu menghubungi mereka lagi kalau saya atau keluarga mau ke SG dan butuh tiket murah lagi ^^b

Next stop adalah Stasiun Bugis. Kali ini tujuan kami bukan Bugis Street melainkan :

Haji Lane

Menurut info yang saya dapat dari blog orang-orang, Haji Lane ini adalah sebuah gang kecil dengan deretan butik-butik unik & lucu yang sedang happening untuk foto-foto unyu, makanya saya maksa untuk memasukkan tempat ini dalam itinerary kami. Dua teman saya sempat protes keras karena perjalanan dari stasiun Bugis ke tempat ini di tengah hari benar-benar membuat kulit terpanggang dan badan bersimbah keringat. Jaraknya sih sebenarnya nggak seberapa jauh, paling cuma sekitar 10-15 menit dari Bugis, tapi sadisnya sinar matahari memang bikin semangat anjlok... hingga ketika kami sampai di sana, kami sudah kehilangan nafsu untuk melihat-lihat terlalu lama dan hanya sempat foto-foto sedikit. 









Sebenarnya sih tempat ini cukup enak buat jalan-jalan, sayang kita ke sana pas sedang panas-panasnya, jadi bawaannya pingin cepat-cepat pergi aja. Pelajaran: lain kali kalau mau ke sana dan mengeksplorasi area ini sampai puas, lebih baik agak sorean waktu matahari sudah lebih bersahabat.

Puas bermandi keringat di Haji Lane, we headed back to Bugis and decided to make a pit stop at the mall untuk ngadem dan mengisi ulang tenaga sebelum ngesot ke destinasi selanjutnya:

Gardens By The Bay

Sayang pemandangan hari itu berkabut gara-gara asap dari kebakaran di Riau yang sedang meliputi Singapura :(



Puas mengitari taman Bay South dan jeprat-jepret Supertrees-nya yang futuristik, kita memutuskan untuk masuk ke 2  konservatorium berbayar : Flower Dome dan Cloud Forest yang tiketnya sudah kita beli lewat Sis Juwita tadi (U.P. 28 dolar untuk 2 conservatories tapi kita cukup bayar 23 dolar saja lewat lapak ini).


Waktu mau masuk Flower Dome, terjadi sedikit kepanikan saat kami menyadari sebuah masalah genting: BATERAI KAMERA SAYA HABIS dan saya satu-satunya yang bawa kamera (>o<;) Terpaksa, sambil menunggu kamera di-charge dengan powerbank, kami harus mengandalkan kamera HP untuk mengabadikan keindahan tempat ini, yang tentu saja terasa kurang afdol.

Flower Dome sendiri tempatnya sejuk dan asri. Jalan-jalan di dalam sini sambil melihat bunga dan hijau-hijauan setelah seharian dipanggang di bawah sinar matahari benar-benar menyejukkan badan & hati... walau saya sendiri bukan pencinta tumbuh-tumbuhan dan nyaris nggak tahu apa-apa soal bunga, saya menikmati kunjungan saya dan nggak merasa rugi sudah membayar tiket yang- buat saya- harganya tidak murah.
Enaknya lagi jalan-jalan di dalam sini adalah banyak drinking water tap gratis. Hehehe buat mahkluk onta yang selalu haus macam saya, ini fasilitas yang sangat penting, apalagi di SG air mineral botolan mahalnya amit-amit. Pokoknya tiap lihat keran air minum, langsung saja saya isi DUA botol air minum  -yang sengaja saya bawa dari Jakarta- sampai penuh :P




Waktu kami ke sana, kebetulan sedang ada ekshibisi "Flights of Fancy", jadi di mana-mana banyak hiasan balon udara warna-warni yang bisa jadi properti yang pas buat foto-foto narsis ala turis :)

Puas lihat bunga-bunga cantik di Flower Dome sekitar 1 jam, kita lanjut ke konservatorium berikutnya: Cloud Forest.

Ragam dan warna-warni bunga di sini memang nggak sebanyak di Flower Dome, tapi di sini ada satu fitur ikonik yang nggak kalah keren : "Cloud Mountain" setinggi 42 m dengan air terjun yang bikin udara di dalam jadi sangat sejuk (bahkan cenderung dingin). Untungnya pas masuk ke sini- tepat ketika baterai HP saya mulai sekarat -  baterai kamera saya sudah pulih dan siap beraksi kembali :)





Waktu akhirnya kami keluar dari Cloud Forest, jam sudah menunjukkan pukul 18:30. Di sana kami dijemput oleh kakak C dan suaminya dengan mobil untuk pergi makan malam.

Karena saya bilang sedang ngidam kari India, kami diajak ke sebuah restoran India "Zam Zam" yang berlokasi di Kampong Glam. Katanya sih restoran ini lumayan terkenal, dan melihat betapa penuhnya tempat ini ketika kami datang, saya percaya kalau itu benar. Yang unik, tempat ini punya kebijakan pembagian lantai yang "berkasta"; lantai 1 non AC, lantai 2 ber-AC dan untuk mendapat "hak" duduk di lantai 2, kita WAJIB pesan menu set. Kalau yang cuma mau pesan minum atau menu satuan, silakan panas-panasan di lantai 1 :P 
Our dinner!! Rasanya mantap dan memuaskan hasrat saya untuk makan real Indian food. And the best part is, kita ditraktir, hehehehe. Perut kenyang, dompet aman :D Thanks C's sister and brother in law!!
Selesai makan, sudah jam setengah delapan lebih, sementara di agenda kami masih tersisa Singapore Flyer dan Helix Bridge untuk dikunjungi. Pikir-pikir, kalau si C ikut kami berdua keliling, bisa-bisa dia harus pulang tengah malam sendirian. Karena nggak tega, saya dan L berinisiatif menawarkan untuk mengantar dia pulang ke apartemennya setelah acara jalan-jalan kami selesai, karena toh kami punya STP yang memungkinkan kami untuk naik MRT sepuasnya. Waktu dengar ide itu, kakak C malah bilang, "Kalau gitu, kalian sekalian nginap di tempat kita aja! Daripada udah jauh-jauh ke  apartemen kita terus harus balik ke hostel lagi"

Dan begitulah ceritanya, kenapa kami akhirnya tidak jadi menginap di hostel dan menghanguskan uang kamar yang sudah  dibayar di muka (untung kita ambil hostel yang paling murah, jadi nggak berasa rugi-rugi amat ^^;). Jadi dari restoran Zam Zam, kami meluncur ke hostel dengan mobil untuk ambil barang, terus didrop di Singapore Flyer sementara barang-barang kami dibawakan ke condo mereka.

Singapore Flyer

Sebenarnya tiket yang kami beli dari kaskus adalah tiket off peak yang cuma berlaku untuk entry sebelum jam 6 sore. Tapi karena Sis Juwita salah bawa tiket waktu COD, jadi kami dikasih tiket  all day dengan harga off peak (20 dolar, U.P. 33 dolar). Kata Sis Juwita, mungkin emang sudah rezekinya kita... hehe, makasih banyak ya Sis!!! Berkat itu, kita bisa menikmati pemandangan malam Singapura yang indah dari ferris wheel tertinggi di dunia.


Di dalam kapsul ferris wheel yang sepi. Saat itu,  kapsul kami hanya berisi 4 orang termasuk kami. 

Simply Breathtaking. Nggak rugi bayar 20 dolar untuk ini... tapi kalau harus bayar full 33 dolar mungkin saya mikir ulang :P

Helix Bridge 

Setelah penerbangan 30 menit kami dengan Singapore Flyer berakhir, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kami menyeret kaki menyusuri pedestrian walk ke tempat tujuan terakhir kami hari itu : Helix Bridge.

Waktu kami tiba, jembatan itu tampak ramai dengan turis yang asyik berfoto-foto. Dipikir-pikir Singapura ini luar biasa; bahkan jembatan penyeberangan pun bisa dibuat jadi objek wisata yang menarik turis internasional... 






Dan dengan demikian, semua tempat yang ada dalam "checklist" kami hari itu sukses kami kunjungi. Malam semakin larut, pegal di kaki kian tak tertahankan, baterai hape dan kamera pun sudah sekarat lagi, we decided that it was time to call it a day and get a good night sleep ^^


November 18, 2012

Batu Caves, Malaysia

Oke, niat awal saya sebenarnya pengen bikin catatan liburan lengkap seperti reportase-reportase liburan bloggers lain yang keren-keren dan informatif... tapi ternyata, apa boleh buat, saya terhalang jiwa procrastinator yang terlalu kuat (>.<;) Boro-boro bikin catatan lengkap, cerita liburan di HCMC dan Hanoi aja terbengkalai di tengah jalan... terus yang di Malaysia malah ter-skip sama sekali (padahal ada 6 hari/5 malam yang penuh cerita di sana).

Jadi, ya, untuk sedikit mengurangi rasa bersalah pada diri saya sendiri yang malas ini, toriaezu saya mau menulis tentang satu saja tempat wisata di Malaysia yang paling berkesan buat saya:

Batu Caves, Gombak

Cara paling mudah untuk mencapai tempat yang terletak 13 km di utara Kuala Lumpur ini adalah naik kereta komuter dari stasiun KL Sentral dengan tarif 1 RM (sekitar 3000 perak!) saja. (tapi entah kenapa, tarif perjalanan pulangnya lebih mahal; 2RM / orang)

"Koc untuk wanita sahaja" di kereta komuter yang kami naiki. Hehe, salah satu keseruan liburan di Malaysia adalah mengomentari bahasanya yang serupa tapi tak sama dengan Bahasa Indonesia, sehingga justru sering mengundang rasa geli. Well, mungkin buat mereka justru Bahasa Indonesia lah yang terdengar aneh... so it's otagaisama ^^;

Tempat ini sendiri merupakan bukit kapur yang memiliki serangkaian gua dan kuil-kuil Hindu yang menjadi salah satu destinasi populer wisman yang berkunjung ke KL. 







Untuk mencapai kuil utamanya yang terletak di gua besar dalam bukit, kita harus mendaki 272 anak tangga. Yup 272 anak tangga! Waktu pertama kali melihat angka tersebut di Wikipedia, I didn't think much of it. Baru 272 kan? Nggak sampe 1000, pasti bisa lah...

Tapi ternyata, waktu melihat dengan mata kepala sendiri ratusan anak tangga yang membentang tinggi itu... OH MY GOD, itu tingginya nggak main-main, lho!


Dan benar saja, di perjalanan mendaki ke atas, saya sampai berpikir saya akan mati saking capeknya dan harus berkali-kali istirahat untuk menstabilkan kaki saya yang gemetaran (>.<)

Ketika akhirnya sampai atas dengan bersimbah peluh dan napas nyaris putus (wow! I actually made it!!! Bisa sampai atas saja sudah pencapaian luar biasa buat saya) tempat yang pertama kali saya tuju adalah stand penjual minuman... Dan walaupun saya tahu saya dirampok dengan harga 6RM / botol (yang kalau di bawah paling-paling 2 RM!), saya langsung membeli minuman isotonik untuk mengganti semua ion-ion tubuh yang hilang akibat proses pendakian tadi. 

Pemandangan dari atas katanya cukup indah. Sayang saya nggak berani terlalu dekat ke pinggir untuk mengabadikannya...

Ternyata perjuangan belum selesai. Di dalam pun masih ada puluhan anak tangga yang harus didaki




Benar-benar, itu pertama kalinya saya sampai harus berjuang meregang nyawa untuk sampai di suatu tempat wisata. 

Dan setelah puas melihat-lihat bagian dalam gua dan sedikit menarik napas, come the next challenge : menuruni 272 anak tangga yang curam. And believe me it wasn't an easy task. Apalagi waktu kita di dalam, di luar sempat hujan sebentar yang membuat anak tangganya jadi basah, licin, dan nampak membahayakan jiwa... Saya nggak berani melihat langsung ke bawah dan hanya bisa menatap satu per satu anak tangga dengan seksama sambil mencengkeram handrail yang kotor tanpa peduli lagi soal higienitas.

Jadi catatan pribadi saya kalau lain kali mau berkunjung ke sana:

1. Siapkan fisik baik-baik --> orang yang sudah 3 tahun nggak pernah olahraga dijamin akan KO...
2. Bawa air minum yang cukup
3. Pakai SUNSCREEN!!!
4. Pastikan diri kita nggak phobia ketinggian! 
5. Pakai sepatu yang enak dipakai jalan dan nggak licin.
6. Bawa uang ringgit yang cukup, karena di area kuil itu banyak toko dan lapak yang menjual aksesoris India yang lucu-lucu dan murah-murah --> hehe, bener-bener belanja di Malaysia itu menyenangkan sekali karena semuanya terasa serba murah! Bahkan untuk ukuran orang Indonesia yang notabene nilai mata uangnya jauh lebih rendah. Apalagi dengan gimmick andalan 10 (RM) for 3 yang semakin menggoda iman ^^;

November 14, 2012

Backpacking ke Singapura

Setelah sekian lama merencanakan dan selalu batal, akhirnya tanggal 8-10 November kemarin kesampaian juga hasrat saya main ke Singapura, the little red dot yang jaraknya cuma sepelemparan batu dari Jakarta. Serius, deket banget! Flight ke sana cuma memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Masih lebih lama perjalanan dari rumah saya ke bandara yang kalau sedang macet bisa makan waktu sampai 2 jam lebih (>.<)
Dan berhubung Singapura adalah destinasi wisata sejuta umat bagi warga Indonesia, saya nggak akan menulis banyak tentang kunjungan saya ke negara ini. Toh tempat yang kami kunjungi juga standar turis seperti Merlion Park, Riverside, Orchard, Bugis, Marina Bay Sands, dan sejenisnya. Jadi di sini, saya cuma akan menulis beberapa highlights dari perjalanan saya  as a personal note :)

1. First time being a real backpacker!
Yup untuk pertama kalinya saya jalan-jalan ke luar negeri tanpa membawa koper ataupun check in baggage! Dalam perjalanan kali ini saya cuma berbekal sebuah ransel ukuran medium:
(Suitcase kecil di kanan punya teman saya) Ternyata traveling light itu praktis ya! Nggak perlu repot ngantri ngambil luggage setelah keluar imigrasi, nggak perlu geret-geret koper ke mana-mana. Lain kali kalo jalan-jalan singkat lagi, saya nggak keberatan kembali ber backpacking ria :)


2. First time getting kicked out of the airport!

Haha! Kami sempat mengalami "episode" menarik diusir dari transit area Bandara Changi. Jadi ceritanya, dengan semangat 45 dan berbekal cerita dari beberapa other backpackers di internet, kami memutuskan untuk menghabiskan malam pertama kami di transit area Bandara Changi. Soalnya flight kami tiba di Singapura pukul 01:00 pagi, so we figured, daripada buang uang naik taksi untuk pergi ke city dan bayar penginapan hanya untuk numpang tidur beberapa jam, lebih baik kami numpang istirahat di area transit Changi yang katanya cukup nyaman untuk spend the night sebelum mulai menjelajah kota keesokan paginya.

So, we found a cozy little spot dengan sofa empuk untuk menggeletakkan tubuh :



Tapi baru tidur-tidur ayam sebentar, kami sudah dibangunkan oleh beberapa petugas imigrasi dan tentara bersenjata laras panjang (>0<) yang sepertinya sedang melakukan razia / pemeriksaan keliling. Intinya kami dinyatakan tidak berhak ada di transit area karena tidak memiliki boarding pass untuk connecting flight sehingga harus meninggalkan area itu dan menyelesaikan proses imigrasi saat itu juga. Yah petugasnya sih ngomong dengan nada biasa dan cukup sopan, tapi tetap saja tentara-tentara bersenjata di belakangnya membuat saya merasa lumayan terintimidasi. Untungnya, --selain menjadi turis gembel yang nekad tidur di transit area -- kami nggak melakukan perbuatan apapun yang melanggar hukum, jadi kami  bisa keluar dari imigrasi tanpa masalah. 
Sekeluarnya dari bagian imigrasi, kami terpaksa menghabiskan sisa waktu sampai pagi di area publik yang jauh lebih tidak nyaman dibanding di dalam. Needless to say we had no sleep at all that night. Dan paginya, sekitar pukul 7, setelah basuh-basuh badan dan sarapan di bandara, kami mengumpulkan segenap sisa tenaga untuk langsung menjelajahi Singapura!

3. First time staying at a backpackers hostel



Penginapan di Singapura tergolong mahal. Kalau waktu di KL dengan harga +/- 300 ribu rupiah permalam saya sudah bisa menginap di city hotel yang nyaman, di negeri singa ini sulit sekali menemukan kamar hotel dengan harga di bawah 60 USD per malam. Jadi solusinya, kami memutuskan untuk menginap di sebuah backpackers hostel bernama The Little Red Dot. Dengan harga sekitar 180 ribu rupiah per orang per malam kami mendapat ranjang di female dormitory room. Namanya hostel, segala sesuatu ya serba berbagi. Mulai dari kamar yang harus kami bagi dengan 6 orang pelancong lain, sampai kamar mandi dan toilet di luar kamar yang harus kami pakai bersama dengan tamu-tamu lain. Tapi selama 2 malam kami menginap di sana sih, kami nggak menemukan kesulitan berarti. Toh kami memang di sana murni hanya menumpang tidur sementara the rest of the day kami habiskan di luar. Begitu juga dengan masalah kamar mandi & toilet. Walaupun bilik shower cuma ada 3, saya nggak pernah harus mengantri untuk memakainya. Kalau pun ada sedikit keluhan, cuma mengenai lokasinya saja yang terasa lumayan jauh dari stasiun MRT Lavender, terutama setelah lelah berjalan mengelilingi kota seharian (>.<)



4. Visiting Universal Studios Singapore!!

I've been to Universal Studios Japan a couple of times in the past, tapi trip ke USS adalah yang pertama kali! So I was pretty excited. Harga resmi tiket masuk ke sini untuk non peak dates adalah 68 SGD, but we got ours for 60 SGD dari lapak agan Rio di kaskus (-> highly recommended seller! :))
Mungkin karena USS masih tergolong baru, atraksi di dalamnya belum begitu banyak (dibandingkan USJ, misalnya). Dalam setengah hari saja kami sudah selesai mengitari seluruh arena theme park itu dan mencoba hampir seluruh wahananya.
But overall it was a fun experience, dan suatu saat saya ingin kembali lagi ramai-ramai dengan teman yang lain. Seorang staff di sana menyarankan kami untuk kembali  di bulan Oktober karena pada bulan tersebut mereka memiliki event khusus Halloween yang menurutnya cukup seru.
Highlights of the day adalah:
Foto sama Gloria dari Madagascar :)

Foto sama Po dari Kung Fu Panda 


Transformers The Ride!
Wahana yang satu ini sebenarnya nyaris sama persis dengan Spiderman di USJ. Yang membedakan cuma temanya saja. Yang jelas, sih, dua-duanya equally fun :)

Selain itu, wahana yang juga seru adalah Jurassic Park. Wahana ini juga ada di USJ, tapi saya lebih suka yang di USS. Memang tinggi air terjun terakhir tempat kita dijatuhkan mendadak jauh lebih rendah dibanding dengan yang di USJ, tapi perjalanan hingga menuju ujung ride nya lebih bumpy, seru, dan super basaaah :) 
Warning :  mending bawa jas hujan kalau nggak mau basah kuyup! Di dalam juga dijual jas hujan, tapi harganya mahal (sekitar 3,5 SGD) sementara jas hujan yang saya bawa dari Jakarta harganya nggak sampai 10 ribu perak :P Dan jangan pakai sepatu bagus, mending sendal jepit aja, karena kaki kita pun pasti akan terendam air!


5. Singapore's Most Famous Cuisine (katanya), the Chilli Crab

Karena katanya Chilli Crab ini  a must try for tourists, kami pun merasa terpanggil untuk mencobanya. Dan ternyata jeng jeng jeng rasanya biasa aja tuh... Yang luar biasa cuma harganya (T_T)


Total untuk makan malam hari itu, kami harus mengeluarkan SGD 68. I felt kinda robbed... especially when I found out that they even charged us for the wet tissues (>.<")

Tapi yah... sudahlah, hitung-hitung pengalaman ^^;